Rabu, 18 Januari 2017

"SEMOGA AHOK BERTOBAT"



       Setelah membaca artikel https://seword.com/politik/jujur-adakah-gubernur-yang-seislami-ahok/ ini, saya rasa perlu untuk ditekankan bahwa Ahok memang tidak adil dan perlu bertobat dari segala apa yang telah ia lakukan selama ini. Karena jujur, lama-lama saya juga geram dengan ketidakadilan yang dilakukan oleh Ahok sebagai Gubernur DKI Jakarta.



(Sumber : http://4.bp.blogspot.com/)

       Pak Ahok, jika terpilih lagi nanti di Pilkada DKI 2017 bertobatlah pak dan kembali sadari siapa bapak sebenernya dan apa agama bapak. Sangat disayangkan kalo 5 tahun kedepan bapak tidak bertobat juga terlebih khusus dalam hal keadilan. Karir bapak bisa tidak mentereng setelah jadi Gubernur, minimal tidak bisa jadi Menteri karena bapak tidak bertobat juga. Jadi saran ku bertobatlah dan lakukan lah hal-hal ini :

1. Bangunlah Gereja di Balai kota, kalo perlu vihara dan pura serta litang juga dibangun. Nah kalo gini kan jadi          adil pak. ^.^

2. Bangunlah rumah ibadah setiap agama sebagai kepemilikan Pemprov DKI Jakarta. Lagi-lagi biar adil pak. ^.^

3. Dalam setiap rusun, harus diperhatikan ada agama apa saja yang tinggal di dalamnya, nah bangunlah rumah         ibadah setiap agama yang ada pemeluknya di rumah susun. Ini untuk keadilan pak ^.^

4. Turunkan bantuan untuk tiap-tiap rumah ibadah pak, kan yang lain juga mau uang. Hahaha. Biar adil pak, ingat     biar adil.

5. KJP berikan juga donk pak ke siswa-siswa Sekolah Kristen atau jika ada sekolah Hindu, Budah dan lainnya.           Bapak gak tahu kan, sekolah swasta yang Kristen itu mahalnya bukan main. Saya aja gak sanggup sekolah           disana pak. Nah, siapa tahu dengan adanya KJP untuk murid Sekolah Kristen bapak bisa kelihatan lebih adil.

6. Nah ini yang saya pengen pak, terbangkan saya dan lainnya ke Tanah Suci Betlehem pak. Mahal banget               soalnya kesana. :’( atau yang hindu-budha ke India. Pokoknya kami juga mau terbang ke tanah suci kami pak.       Tapi berhubung saya bukan KTP DKI, saya banyak kenalan yang bisa saya rekomendasikan pak. Hahaha. Biar       adil pak.

7. Mumpung saya tidak tahu ada atau tidak Kejuaraan Cerdas Cermat Alkitab tingkat Jakarta, maka untuk                 keadilan dalam hal satu ini tidak usah lah pak. Gimana mau ngeluarin dana untuk ngasih bonus ke perwakilan       Jakarta, kan lombanya belom ada. Agama lain juga saya gak tahu pak ada atau tidak. Kalo ada kasih bonus         jugalah pak kepada pemenang. Keadilan itu nomor satu pak.

8. Sama dengan nomor 7 tapi tingkat Nasional, tapi sepertinya juga tidak ada ya pak yang tingkat Nasional. Jadi       tidak usah keluarkan dana untuk bonus pak.

9. Setiap perayaan Natal, kasih subsidi untuk harga daging babi donk pak, imlek, waisak, nyepi, kasih juga subsidi     untuk makanan khas yang biasa ada di perayaan kami pak. Kami juga mau makan enak. Hahahaha. Kalo kami     sama-sama bisa makan enak, berarti bapak adil.

10. Nah yang terakhir ini, pasti bapak persembahankan sebagian rejeki bapak ke gereja. Tapi bapak belum adil,          soalnya sebagai pribadi pasti bapak tidak ada sumbangsih ke perayaan agama lain.


       Jadi memang sudah sangat terlihat dengan jelas ketidak adilan bapak terhadap warga DKI. Ini mungkin yang membuat bapak tidak dibela banyak orang atau ini yang membuat pendukung bapak kebanyakan diam. Karena itu tadi bapak belum bertobat dari ketidakadilan. Sekian pak, terimakasih.

Kamis, 01 Desember 2016

SEBARKAN KEBAIKAN

Aku berangkat kerja seperti biasa setiap harinya begitu juga hari ini, Jumat tanggal 2 desember 2016. Keluar dari rumah dan menutup pagar, tak ada terlintas sedikitpun di pikiranku bahwa ada kejadian luar biasa pada hari ini, aku masih tetap semangat untuk memulai perjalanan ku ke tempat dimana aku bekerja. Aku pun mengendarai sepeda motor yang selalu setia menemaniku sampai ke tempat penitipan motor di stasiun. 
Sumber : http://bogor.net/commuter-line-tambah-jadwal-perjalanan-perlintasan-bogor/


Sesaat sebelum aku sampai di tempat penitipan motor, aku melihat dari jauh sudah banyak rombongan berbaju putih memarkirkan motornya di tempat penitipan motor. Seketika itu juga aku teringat bahwa hari ini adalah hari dimana terjadinya kejadian luar biasa di Negeri ini. Tak banyak yang bisa aku ungkapkan tentang apa yang aku pikirkan. Tapi yang pasti aku langsung memulai perenungan ku tentang apa yang terjadi saat-saat ini. Mengapa ada begitu banyak gejolak yang terjadi di Negeri ini, apa karena Negeri ini sedang dicobai disaat pertumbuhan dan perkembangannya yang pesat di dalam Negeri?
Langkah demi langkah ku jalani, berada di tengah-tengah rombongan yang akan beribadah dan bekerja, membuat aku bingung mengapa kita sangat berbeda akhir-akhir ini? Ada ribuan orang yang memilih untuk bergabung di Pusat Kota dan ada juga ribuan orang yang tetap memilih menjalani aktifitasnya sehari-hari. Tertunduk dan tetap merenung hingga aku melihat panjang antrian untuk membeli tiket commuter line.
Terlintas penyesalan kenapa aku tidak mengisi saldo kartu multi trip kemarin hari namun aku tetap untuk mengantri mengisi top up kartu harian ku di Mesin kartu THB commuter line. Tiba saatnya aku sudah dibelakang satu orang lagi untuk dapat berhadapan langsung dengan mesin itu. Di mesin sebelah, aku melihat ada seorang perempuan bertutup kepala terlihat kebingungan. Aku melihatnya dan menyadari ternyata dia menggunakan uang 50.000 rupiah ke mesin kartu THB tersebut. Uang 50.000 terlalu besar di mesin tersebut dan harus dipecahkan terlebih dahulu ke nominal yang lebih kecil untuk dapat bertransaksi di mesin kartu THB.
Perempuan itu berusaha menanyakan sekeliling apakah ada yang bisa menukar uangnya atau tidak. Dia bertanya dan tak ada yang memiliki uang pecahan 50.000. Dia kebingungan karena antrian di belakang sudah terlalu panjang jika dia harus menukar uangnya terlebih dahulu dan mengulang antri dari belakang. Salah satu pria di belakang antrian perempuan itu berkata “Tukerin dulu mbak, antri lagi dari belakang”. Dan seketika itu pun aku memikirkan bagaimana aku bila berada di posisi perempuan bertutup kepala itu.
Perempuan itu mungkin lupa untuk memecahkan terlebih dahulu uang 50.000 nya karena terburu-buru kerja. Akhirnya aku katakan “Mbak, pakai ini saja” aku lalu memberikan uang 5.000. Dia berkata lagi “Tapi ini 13.000 mas” Aku menimpali “Oh yaudah” aku memberi lagi 10.000 kepada perempuan itu. Perempuan itu selesai bertransaksi dan sepertinya masih menunggu aku selesai bertransaksi. Setelah aku selesai bertransaksi dia menghampiri ku dan berkata “Mas, saya mau ganti uangnya” aku katakan “Oh, yaudah mbak” tapi sepertinya perempuan itu bingung mau menukar kemana karena kondisi yang ramai saat itu di Stasiun Bekasi.
Aku kemudian berkata lagi karena juga ingin segera naik kereta “Yaudah mbak gak usah” perempuan itu menjawab “Tapi saya gak mau mas” Untuk menghindari perdebatan antara mengganti atau tidak, aku katakan kepada perempuan bertutup kepala itu “Kalo gitu, sebarkan kebaikan saja mbak” perempuan itu menjawab “makasih ya mas” dan aku pun berlalu. Mencari gerbong yang tidak banyak orang, menjalani kembali perjalanan hingga sampai ke Blok M dengan tetap merenungi apa yang aku lihat sepanjang perjalanan ku. Hari ini aku belajar dari apa yang aku alami sendiri. Bahwa sebenarnya mudah melakukan kebaikan dan menebarkan semangatnya. Salam.

Senin, 29 Agustus 2016

Congklak "Sederhana namun bermakna"


       Butuh mencari inspirasi untuk menulis tentang yang terjadi hari kemarin, tanggal 29 Agustus 2016 di sebuah Cafe yang bernuansa cozy dan bernama Cozyfield Cafe. Cafe ini berada di sebuah bangunan milik salah satu ritel terbesar di Indonesia yakni Gramedia. Gramedia adalah penyelenggara dari sebuah kompetisi dimana aku mencatatkan sebuah sejarah, sebuah cerita yang tak akan dimakan usia untuk dapat kuceritakan kembali kepada anak-anak yang ku kenal di masa yang akan datang. Gramedia Product Inovation Challenge 2016 atau bisa disingkat GRAPIC 2016 adalah nama kompetisinya. GRAPIC 2016 adalah kompetisi pertama kali dari Gramedia, kompetisi ini mengajak semua kalangan untuk membuat ide mereka tentang sebuah inovasi produk menjadi sesuatu yang nyata.

       Kompetisi yang sudah dimulai sejak pertama kali pendaftaran di bulan Mei ini, menghadirkan banyak kisah dan kasih untuk saya lewati. Cerita sebelum tulisan ini sudah menceritakan sebagian bagaimana kisah dan kasih itu terjadi dalam kompetisi hingga sampai kepada 10 besar peserta GRAPIC 2016. Bayangkan saja dari 884 peserta yang mendaftarkan produknya, saya si inovator amatir ini masuk ke dalam 10 besar GRAPIC 2016. Bukan kah itu pasti menghadirkan banyak kisah dan kasih? Dan dari babak 10 besar sampai kepada hari bersejarah kemarin, kisah dan kasih itu terus berlanjut. Tapi untuk menuliskannya cukup sulit memulai karena saya hampir kehabisan kata-kata untuk menggambarkan apa yang saya rasakan dalam penantian hari bersejarah itu. Tapi, bagaimanapun yang aku tulis semoga dapat memberikan sebuah gambaran tentang proses seseorang untuk mencoba, menjalani, dan penyerahan penuh terhadap Penciptanya.

       Saya adalah pegawai kantoran yang baru bekerja di retail dengan jadwal libur yang tidak tentu dan belum memiliki izin cuti. Izin tidak masuk mungkin saja, tapi bukan itu poinnya, poinnya adalah secara kebetulan di bulan Juli aku membuat jadwal libur bulan Agustus ku di tanggal 29 tepat pada Babak final GRAPIC 2016. Padahal pada saat itu pengumuman 10 besar belum keluar dan baru di awal bulan agustus diumumkan. Kebetulan? mungkin saja, tapi saya lebih percaya itu cara Tuhan. Syarat sebagai 10 besar pun ku penuhi, mengumpulkan CD Softcopy presentasi board dan surat penyerahan HAKI kepada Gramedia. Pengumpulan berkas ini bahkan harus ku kirim melalui transportasi online karena tidak sempat saya yang mengantar sendiri.

       Sebelum aku bertemu dengan para inovator-inovator hebat lainnya, aku berusaha mencari siapa mereka dan bagaimana latar belakang mereka. Ada yang dari bidang design produk ITB, ada yang bidang design produk ITS, dan ada yang sudah mengikuti ajang perlombaan sejenis GRAPIC, bermacam macam latar belakang yang pastinya memberikan kepantasan kepada mereka untuk lolos ke 10 besar GRAPIC 2016. Sedangkan saya hanya seorang lulusan dari Teknik Industri USU. Memang dalam Teknik Industri saya mengenal apa yang namanya design produk. Bahkan Teknik Industri USU sendiri pun memiliki perlombaan Product Design Competition (PDC) yang diadakan setiap tahun. Tapi semasa aku kuliah, tak pernah aku memiliki ide untuk produk inovasi. Bahkan saat sebagai peserta PDC, saya menyerahkan sepenuhnya proses PDC kepada teman sekelompok saya. Kemudian semasa kuliah saya tidak pernah mengikuti perlombaan design produk dari Universitas lain meski sangat banyak yang mengadakannya. INDISCO dari UNDIP dan CHRONICS dari UGM. Waktu itu sempat punya ide untuk CHRONICS tapi karena tak ada teman yang bisa diajak akhirnya batal diwujudkan menjadi Inovasi.
       Perbaikan produk pun disarankan panitia agar lebih maksimal pada saat hari H. Tapi saya tidak bisa berbuat apa-apa lagi dengan produk inovasi saya. hahaha. Saya hanya memperbaiki prosedur permainan yang lagi-lagi minta didesainkan oleh Savudan, Junior berbakat TI USU. Hehe. Lanjut mempersiapkan presentasi di power point yang akan digunakan untuk hari H babak final GRAPIC 2016. Berkali-kali meminta tolong dengan kawan yang jago mendesain presentasi, tapi waktu tak juga mendukung. Akhirnya saya membuat presentasi sendiri dengan desain yang mungkin bisa dikatakan polos. hahaha. Tapi aku tak peduli, kuselesaikan presentasinya tepat sebelum berangkat dari Pasaraya tempat aku bekerja ke tempat penginapan Peserta Final GRAPIC 2016 di Hotel Santika Premier Bintaro.

       Saya pun tiba di Hotel dan bertemu dengan teman-teman seperjuangan, kesan pertama saya adalah mereka orang-orang yang sangat welcome sekali. Sangat cepat akrab dengan mereka. Haha. Tapi ketika menyadari mereka sedang menyiapkan presentasi dengan segala desain desain yang menurut saya canggih (karena saya gaptek hahaha) membuat saya agak down. Sempat down tapi tak berlangsung lama, karena tidak beberapa lama ketika saya dalam keadaan down gambar ini muncul di timeline bbm saya dan membangkitkan kepercayaan diri saya lagi.

Gambar ini memang diupload oleh Dewi dan sebagai hadiah atas wisuda dirinya dari seseorang kerabatnya. Tapi ketika saya melihat ini, saya merasa ini jawaban Tuhan atas rasa down yang saya miliki terhadap presentasi yang saya sudah buat. Aku pun terus menyetel lagu rohani di kamar untuk membuat kepercayaan diriku terjaga agar aku bisa tenang sampai waktunya presentasi tiba. Untungnya satu kamarku (Juara 1 GRAPIC 2016) memiliki agama yang sama dengan saya sehingga tidak terjadi gesekan agama ketika aku menyetel lagu rohani di dalam kamar.

       Obrolan demi obrolan, percakapan demi percakapan, kebersamaan demi kebersamaan, membuat persahabatan diantara kami yang hanya dipertemukan kurang dari 24 jam sangat terasa. Memang tidak semua dari kami ber10 merasakan persahabatan yang sama. Tetapi waktu yang singkat itu mampu membuat saya memiliki kenangan manis bersama dengan mereka. #eaaaaa. 

     Waktu presentasi tiba, sebelumnya kami sudah diundi nomor penampilan presentasi. Waktu pengambilan nomor itu aku sampe berucap "Dalam Nama Tuhan Yesus" dan mendapatkan nomor urut 7. Smpet berpikir bahwa angka 7 adalah angka keberuntungan tapi kemudian aku berpikir ini bukan tentang beruntung atau bukan. Hehehe. Presentasi demi presentasi dengan produk-produk yang luar biasa satu persatu pun berlangsung. Saya merasakan detak jantung yang semakin lama semakin tak memnentu iramanya. Hahaha. Kadang saya berpikir "Tenang. Tenang. Ini semua demi kembalinya anak-anak untuk memainkan permianan tradisional" namun pikiran itu kadang tidak dapat membuat saya tenang. Haha. 

       FYI, titik berat prsentasi peserta lain semuanya berbeda dengan saya. Mereka menitik beratkan kepada produk (bagaimana produk diproduksi, berapa harga pokok produksi, bagaimana produk di produksi massal, dsb) sedangkan saya menitik beratkan pada latar belakang inovasi produk. Permainan tradisional pada gambar di bawah ini memang dipersembahkan untuk membuka mata kita semua orang dewasa bahwa anak-anak sudah tidak bermain bersama dengan teman-temannya lagi. Mereka sekarang bermain gadget dan terus menumbuhkan sifat individualisnya. Ini yang saya ceritakan dalam 3/4 waktu saya presentasi.


       Sadarilah, lihat kesekeliling kita, lihat anak-anak yang ada disekitar kita. Sudah paham kah mereka tentang arti menghargai orang lain? Tentang arti sebuah kebesaran hati terhadap kekalahan? atau tentang arti sebuah kejujuran dalam permainan? Mendramatisir memang, tapi itulah kenyataanya. Jangan heran jika bibit bibit melawan guru, orang tua, dan orang yang lebih tua tumbuh dalam diri anak-anak jika waktu bermain dengan keluarga dan teman teman sebayanya sangat minim. Produk ini diharapkan bisa menjadi alternatif media permianan yang menghadirkan kebersamaan anak anak dengan keluarga maupun teman-teman sebayanya. Jadi apabila produk ini sudah di produksi masal oleh Gramedia dan diperjual belikan, Belilah dan taruh di rumah, jika ada kesempatan bermainlah bersama anak-anak di rumah, buatlah mereka menikmati permainannya hingga suatu saat mereka mengajak teman-teman sebayanya bermain bersama mereka.

       Semua peserta telah presentasi, tak ada rasa penasaran terhadap hasilnya. Aku telah melakukan yang terbaik dan telah melihat banyak presentasi yang lebih baik dari saya. Apapun hasilnya, yang terpenting bagi saya adalah apakah produk ini kedepan akan memberikan manfaat positif atau tidak bagi penggunanya sama seperti pengeritan Inovasi bagi saya yang harus memberikan dampak positif.

       Pengumuman tiba, pertama kali yang diumumkan adalah Juara Favorit dan itu adalah saya sang inovator Congklak menjadi The New Congklak. Lalu bagaimana harus ku mengucap syukur atas berkat ini? Tak tahu, saya tak tahu apa yang saya rasakan setelah pengumuman. Seperti mati rasa, aku lupa, lupa bagaimana aku harus bersikap, aku hanya tersenyum bahagia, senyum yang paling tulus kuberikan. Sayang, foto penyerahan hadiah tidak ada dengan ku, aku penasaran bagaimana rasa senang itu terpancar di wajahku. Sangking senangnya, aku lupa bahwa aku membawa kendaraan pribadi yakni motor ke tempat perlombaan dan berharap dijemput oleh keluarga. Haha

       Juara Favorit, yah Juara Favorit, Juara Favorit ini dipilih oleh juri bukan oleh audience yang datang ke lokasi Final GRAPIC 2016. Jadi aku tidak tahu mengapa The New Congklak dipilih mereka sebagai Juara Favorit. Karena jika dipilih oleh audience itu artinya produk ku paling diminati oleh audience sehingga memberikan gambaran sedikit bahwa jika diproduksi masal setidaknya produk ku mungkin akan banyak terjual. Tapi ini yang memilih dewan juri, aku penasaran mengapa. Hingga akhirnya salah satu dewan juri memberikan komentar di postingan media sosial ku dan berkata "Inovasi yang bagus itu, sederhana namun berdampak positif buat banyak orang. Mudah2an inovasimu diproduksi massal oleh gramedia, jangan lupa warna kayu yang kekinian dan mungkin gambar2nya juga diganti yang lebih kekinian juga", Yoris Sebastian, Salah satu Juri GRAPIC 2016.
       Favorit memang memiliki banyak makna, tapi favorit jelas bukan yang terbaik oleh sebab itu ia terpisah dari Juara 1,2, dan 3 begitu juga dengan perbedaan hadiahnya yang jauh dari ketiga juara itu. Tapi bagi ku Juara Favorit ini memberikan optimisme bagi congklak ini untuk dapat kembali menjadi permainan yang digemari oleh anak-anak.

      Terimakasih Tuhan, terimakasih Gramedia, dan terimakasih Mas Yoris Sebastian dan Kak Diana Rikasari telah menyematkan Juara Favorit kepada produk saya The New Congklak. Dan untuk siapapun di luar sana, kita yang dewasa mempunyai tanggung jawab untuk membangun karakter anak-anak menjadi karakter yang baik dan sehat. Bermainlah dengan mereka dan tebarkan semangat kebersamaan untuk Indonesia Raya! #EAAAAAA


                                                                                                                       Pasaraya, 30 Agustus 2016
Salam,
Inovator Amatir


Edgard Lam Martua

Selasa, 09 Agustus 2016

Campur Tangan Tuhan di GRAPIC 2016



Sumber : https://www.facebook.com/gramediastore/photos/a.187158490233.268257.106462695233/10157149797570234/?type=3&theater


Gambar ini, memberikan sebuah cerita yang sangat panjang sekali. Berawal dari sebuah informasi tentang adanya perlombaan Gramedia Inovation Challenge (GRAPIC) 2016 yang saya tahu entah dari mana sumbernya, kemudian saya tertarik untuk mengikutinya. Waktu itu saya mulai mencari ide untuk mengikuti perlombaan ini, hingga akhirnya tercetuslah ide yang bisa diikutsertakan di perlombaan ini. Ide muncul dari inspirasi pekerjaan saya di Pasaraya Departemen Store Blok M. Masih belum berani untuk ikut sendirian di perlombaan ini, saya mulai mencari teman untuk mengikuti perlombaan ini. Dua sampai tiga orang mungkin juga lebih teman yang saya ajak tidak ada yang mengiyakan dan menyanggupankan ajakan saya. Waktu itu H-5 sebelum ditutupnya seleksi pertama GRAPIC 2016 ada teman yang saya ajak dan mengatakan "Sudah tidak keburu, tidak mungkin ikut GRAPI 2016". Begitulah kira-kira ucapannya. Hingga akhirnya saya mengambil jalan sendiri yang kemudian dibantu oleh junior Multi Talenta Savudan Sihombing. Dengan bantuan Savudan yang membuat gambar tiga dimensi ide produk saya, kemudian saya lanjutkan dengan membuat presentasi board akhirnya hari H penutupan saya mengirim ide produk saya di GRAPIC 2016. Saat itu ternyata pendaftaran tahap pertama GRAPIC 2016 diundur, tapi tak apalah toh saya juga sudah mengirim presentasi board saya.

Akhirnya pengumuman 100 besar pun keluar, email dari panitia masuk ke email saya. Semula saya berpikir diundurnya pendaftaran tahap pertama GRAPIC 2016 dikarenakan sedikitnya peserta yang mendaftar namun ternyata mungkin panitia punya alasan lain mengundur waktu penutupan pendafataran. Betapa terkejutnya ketika email dari panitia mengatakan bahwa saya lolos sebagai salah satu peserta 100 besar yang terpilih dari 884 peserta atau produk yang mendaftar di GRAPIC 2016. Jumlah yang sangat fantastis!

Hingga suatu kali ada salah satu peserta yang menajak peserta 100 besar lainnya membentuk suatu group obrolan di aplikasi mobile. Group ini berjudul "100 Inovator GRAPIC 2016". Group ini membuat aplikasi chatting saya lebih berbobot terlihat. Hahaha. Orang-orang yang humble, seru, gokil, dan penuh semnagat serta positif thingkingnya sangat terasa di group ini.

Kemudian waktu yang cukup panjang untuk mempersiapkan diri ke tahap selanjutnya yakni pengumpulan prototype di tanggal 31 Juli sedikit membuat saya terlalu santai. Hehehe (Jangan dicontoh ya). Hingga akhirnya saya agak kelabakan juga ketika mengajukan pembuatan prototype ke pengrajin kayu yang ternyata membutuhkan waktu yang lama karena terbentrok dengan hari raya Idul Fitri. Tapi untungnya semua masih bisa dikerjakan walau harus dikejar deadline. Ditengah-tengah pengerjaan prototype, ada pergumulan yang terjadi yakni Lolosnya saya juga di 131 peserta National Camp GMB 2016. Acara hari H National Camp GMB2016 sedikit memotong waktu persiapan prototype produk saya. Tapi saya berkelakar, jika tak ikut Camp GMB maka saya juga tak akan menyelesaikan prototype produk saya. Ini unutk memotivasi saya tetap mengikuti camp, karena menjadi bagian dari GMB juga merupakan bagian dari mimpi saya.

Kendala pembuatan prototype tak berhenti sampai disitu meskipun sudah selesai dan saya kirim ke panitia, dana yang sangat minim membuat saya sedikit kekeringan di bulan setelahnya . Hingga akhirnya saya mencoba menawari teman-teman untuk menjadi sponsor dengan ketentuan jika lolos 10 besar uang yang diberikan kepada saya, saya ganti dua kali lipat, jika tidak lolos saya hanya ganti 50% saja. Tapi, tak ada yang mau jadi sponsor. Hahaha. Kemudian saya tawarkan ke saudara saya dan lumayanlah mendapat sebagian dana dari seluruh dana yang saya keluarkan untuk prototype.

Bagaimana kemudian campur tangan Tuhan? Mungkin cerita diatas belum terlalu menggambarkan.

Waktu itu, hari minggu tanggal 1 Agustus 2016, saya merasakan dorongan untuk melakukan perubahan dalam hidup saya. Firman Tuhan pada waktu itu menyadarkan saya untuk memiliki karakter seperti manusia baru sejati. Dan saat itu juga saya memutuskan untuk berpuasa. Puasa Kristen yang saya tahu dari tulisan kak Tika Anggreani Purba lah yang saya lakukan. Satu minggu sampai tanggal 8 Agustus saya berpuasa, saya menyerahkan kepada Tuhan tentang pengharapan saya di GRAPIC 2016. Puasa yang baru pertama kali saya lakukan ini, memang tidak banyak halangan tapi cukup membuat saya berkaca bahwa ada pengorbanan yang harus saya lakukan untuk membuktikan betapa besarnya pengharapan yang saya miliki kepada Tuhan. Di dua terakhir cobaan cukup berat untuk membatalkan puasa, bagaimana tidak godaan traktiran teman datang di. Hahaha. Saya berusaha untuk taat dalam HPDT saya dalam satu minggu itu dan mejaga setiap HPDS yang ada. Saya sangat berharap terlebih lagi dengan kebutuhan uang yang sedang sangat dibutuhkan. Hingga akhirnya hari selasa ini, saya selalu memperhatikan dengan sigap setiap gemetar yang terjdi di handphone saya. Dan benarlah tibanya saat pengumuman itu datang dan menyatakan saya lolos 10 besar GRAPIC 2016.  Rasa syukur yang tak terhingga kusampaikan atas berkat Tuhan, atas pegertian Tuhan, atas jawaban Tuhan, dan atas kebiakan Tuhan.

Tulisan Semangat ini juga bukan hanya untuk berbagi kesaksian saya, tapi juga berbagi bahwa kompetisi belum berakhir. Kemenangan bisa diperoleh dimanapun. Pandanglah setiap kesempatan yang ada dan manfaatkan. Berserahlah penuh kepada Tuhan dan jangan bersandar pada kemampuan sendiri. Kalah menang urusan belakangan, pengalaman adalah harta yang lebih berharga dari sebuah kemenangan. Menang dari keputusasaan, egoisme, dan keangkuhan adalah kemenangan sejati.

Terimakasih yang sebesar-besarnya juga saya sampaikan kepada Gramedia atas kesempatan yang diberikan. Sampai bertemu di tanggal 29 Agustus 2016.

Salam...


Inovator Amatir
Edgard Lam Martua


 



Selasa, 21 Juni 2016

Kisah dan Cerita Peserta Camp National GMB 2016 "Profile 1"

Rifqi Maulana

Dia memiliki nama lengkap Rifqi Maulana, bocah kuper kelahiran Bireuen 24 Oktober 1994 ini sempat gurunya salah input data jadi tanggal lahir secara administratif yakni 24 September 1994. Mahasiswa ini sempat gagal kuliah 2 semester karena mahasiswa angkatan 2012 tinggal 6 orang dan kelas pun ditutup dan akhirnya masuk ke kelas lanjutan. Sebelum kenal GMB, Rifqi adalah manusia yang kalo diingat lagi malah bikin diri sendirinya jijik karena super duper negatif.

Anak ini kenal GMB lebih dari 1 tahun lalu, waktu itu rifqi baru saja menjabat sebagai Ketua BEM, sekitar 3 hari setelah pelantikannya, isu tentang GMB luar biasa hot di bireuen. Singkat cerita rifqi berjumpa dengan Bang Darman, GMB pertama di Bireuen namanya GMB Knowledge, disini awalnya  bergabung lebih dari 100 pemuda dalam tiap diskusi. Sharing knowledge dan peningkatan kapasitas diri adalah inti dari GMB yang satu ini. Disini rifqi diasah agar "lebih menjadi manusia" hingga menemukan kerangka berfikir, mengurangi kadar egoisme diri, mengubur dalam-dalam apatisme terhadap lingkungan sekitar dan menjadi lebih peka.

Waktu berjalan, alam menyeleksi. Dari ratusan pemuda tadi terhitung setidaknya 15 pemuda bertahan salah satunya dirinya dan Asyura (GMB 2015). Dengan tujuan meneruskan arwah berbagi GMB setiap dari mereka dituntut untuk membangun social project masing-masing. Dengan keburukan fisik yang rifqi miliki (gigi rusak ambrekebel amburasun) dirinya tidak ingin ini dirasakan oleh adik-adiknya karena ini mengurangi rasa percaya diri, menghambat dalam menggapai cita-cita, dan hal lain.

Lalu rifqi mendirikan GMB Sikat Gigi, saya mengadakan sosialisasi sebanyak 2 kali di sd di kecamatannya. Gerakan ini gagal karena rifqi bergerak sendiri, masih minim jaringan. Tiga kepala lebih baik dari satu kepala. 1 agustus 2015 rifqi bersama 2 teman mendirikan GMB Balai Baca. Menyadari fakta bahwa keterpurukan pola pikir masyarakat desa dikarenakan minimnya akses bacaan di masyarakat. Desanya berjarak sekitar 2 km dari pusat kota. Tapi kesenjangan dalam segala bidang sangat terasa. Ditambah tingkat pecandu narkoba yang hampir mencapai 80% di kalangan pemuda. Jika pendidikan akan hal ini tidak di berikan sejak dini, kondisi anak-anak sepertinya tidak akan jauh beda dengan pemuda ini. 

Globalisasi juga sangat mempengaruhi masyarakat dengan kondisi filter yang minim. Pengikisan kearifan lokal, pupusnya budaya, permainan tradisional tidak digemari lagi.  Ya, GMB Balai Baca hadir dengan niatan memperbaiki hal ini semampu kami walau dengan hal kecil dan sering sekali tersandung bahkan sempat dituding Aliran Sesat oleh bberapa pihak. Dan ya, kami mampu bertahan dan berkembang hingga sekarang. GMB Balai Baca telah berdiri di 3 titik di Bireuen. Pengadaan buku bacaan, alat tulis, papan tulis dll semuanya mengandalkan donasi dari para penderma yang sayangnya kebanyakan bukan dari putra/i aceh.
Selain itu kami juga punya "Mugee Buku" Sebuah perpustakan keliling menggunakan Keranjang yang dibawa menggunakan motor dan biasanya kami menyasar pusat keramaian.

Terus ada juga yang namanya Ransel Baca, mereka membawa buku menggunakan ransel dan berpetualang ke pelosok pedesaan dengan kriteria tertentu dan melaksanakan beberapa kegiatan disana seperti story telling kepada anak-anak dan beberapa hal lainnya. Mereka juga berusaha menginspirasi pemuda lainnya untul membangun gerakan sosial diantaranya Gerakan Seratus Rupiab dari siswa untuk dhuaffa (Berdiri 1 des 2015), GMB hidup sehat punya Rahmah dan beberapa gerakan lainnya dengan mengharapkan terjadina perubahan pola sosial.

Rabu, 24 Juni 2015

Script Sheet dan Ayam Goreng

Oke gan, ane sekarang lagi di Restoran Ayam Goreng ternama di Indonesia. Restoran yang selalu memanjakan konsumennya dengan diskon-diskon atau paket makanan yang murah habis. Gue gatahu kenapa gue bisa seneng banget sama rasa ayam goreng disini. Kayanya memang ada bumbu yang khas banget yang diracik untuk membuat gue jatuh cinta sama ayam goreng di restoran ini. Kalo berdasarkan iklannya sih, ada 11 bumbu rahasia.

Gak penting sih tentang restoran ini, tapi yang penting sekarang gue lagi berusaha untuk menyelesaikan kewajiban gue sebagai anak baik yang berbakti kepada orang tua. Hahaha. Gue ke restoran ini bela-belain dari kostan dengan dalih untuk mendapatkan wangsit untuk mencerahkan otak gue dalam mengerjakan Script Sheet.

Kalian tahu lah Script Sheet itu apa kan? Sesuatu yang sifatnya sangat misterius dikalangan para pelajar. Karena para pelajar memang belum kenal sama mahkluk yang berupa kumpulan data-data satu ini. Nah, Script Sheet menjadi misterius ikalangan para intelektual muda untuk menyelesaikan satu masa hidupnya yang sangat berat. Masa-masa penuh gonjang-ganjing membuat perjalanan studi para intelektual menjadi sangat seru dan luar biasa. Belum tuntutan dari para intelektual tua untuk berani turun ke jalan menyuarakan kebijakan pemerintah yang luar biasa "baik"nya bagi rakyat. Dengan perjalanan yang sudah begitu rumitnya dalam belajar, di akhir masa-masa studinya intelektual muda kemudian masih harus bertarung dengan yang namanya Script Sheet.

Seperti yang gue alami saat ini.

Tapi angin segar sepertinya akan dirasakan oleh para intelektual muda selanjutnya, dimana pemerintah sedang merancang program agar para intelektual muda tidak lagi mengerjakan Script Sheet di akhir masa studinya. Katanya sih, intelektual muda selanjutnya hanya perlu melakukan studi di Perusahaan yang menunjang pendidikannya. Gak tahu lah gimana pastinya, tapi gue sih yakin 100% kalo Script Sheet dihilangkan dari para hadapan intelektual muda, maka intelektual muda akan turun ke jalan dan menyanjung Pemerintah. Hahahaha

Okelah, sebenernya gue nulis ini sebagai selingan untuk memacu adrenalin kemampuan bahasa gue atau kemampuan menulis gue. Karena percaya atau enggak kemampuan menulis lo sangat berguna untuk mengerjakan Script Sheet apalagi kemampuan lo dalam edit mengedit. Hahahaha

Selamat malam semuanya....

Minggu, 21 Juni 2015

Donorkanlah Darahmu!!!

Oke, akhirnya gue menulis ajakan untuk donor darah juga, setelah 1 bulan blog ini menjadi tempat berkumpulnya jaring laba-laba spiderman. Hahaha

Sebelumnya gue mau menceritakan sebuah kisah yang sangat kebetulan namun gue mengartikannya sebagai sebuah kejadian yang telah direncanakan Tuhan bagi gue untuk dapat menjadi sebagian kisah hidup gue yang bisa kujadikan sebagai sebuah kesaksian.
Bermula di suatu malam pada bulan November (gue lupa tepatnya tanggal berapa) teman gue menanyakank tentang seseorang yang memiliki golongan darah O. Gue langsung mengatakan bahwa gue bergolongan darah O, lalu gue bertanya kepadanya, “kenapa?”. Dia lalu menjawab, “adik temanku menderita kanker, dan butuh donor darah untuk operasi di keesokan harinya, dan dia butuh golongan darah O”. Dia nanya sama gue "apakah gue bisa menjadi donor bagi adik temannya itu. (dia telah terlebih dahulu mendonorkan darahnya)". Awalnya gue ragu, takut, namun juga penasaran, selama ini gue belum pernah mendonorkan darah baik di aksi donor darah maupun pada si pembutuh darah langsung. Namun gue penasaran dan akhirnya gue mendonorkan darah bagi adik temannya itu.

Sebelum gue berangkat dari kos, gue duduk sejenak dan berdoa kepadaNya. Gue tahu setiap darah yang mengalir dalam diri ini adalah dari Nya. Dangue gak mau keputusan ini berdasarkan ego doank, namun gue berdoa jika memang Tuhan mengijinkan biarlah Dia melancarkan segalanya.

Akhirnya gue pergi, tiba di RS Adam Malik, gue langsung ke ruang transfusi darah dan melakukan donor. Dalam keadaan di donor, teman gue banyak cerita tentang adik temannya itu, sungguh menyedihkan, kanker yang dahulu sempat hilang, namun kini kembali menggerogoti tubuhnya bahkan terancam diamputasi (bagian yang diamputasi adalah lengan kiri). Aku tidak bisa membayangkan kalo gue berada dalam posisi dirinya.
Saat itu waktu kira-kira menunjukkan pukul 01.00 WIB dan gue telah selesai menjalani proses tranfusi darah dan darah gue lolos uji lab PMI yang ada di RS tersebut.
Akhirnya gue pulang dan sampai dikos setelah itu tidur.

Tidak berselang lama dari waktu aku mendonorkan darah ku, sehabis dari tidur di pagi hari, gue nelepon nyokap, semula gue pikir  orangtua gue bakal ngerespon baik, cerita tentang gue yang mendonorkan darah kepada seseorang. Tapi ternyata... gue dimarahin, gue dinasehati, donor darah hanya untuk orang-orang yang mengkonsumsi makanan bergizi, donor darah hanya untuk orang-orang yang berada, dan masih banyak lagi hal yang dibilang sama orang tua gue. Hati gue seketika itu juga mengecil, gue malu, gue gak tahu, apa gue yang salah, atau nyokap gue. Gue gak tahu apakah donor darah itu bukanlah hal yang sosial atau bukan. 

Gue bingung, gue resah, bahkan gue sedikit marah atas tanggapan orang tua dan kakak-kakak gue karna saat itu gue juga disuruh untuk tidak melakukan donor darah lagi.
Saat itu, di dalam kebingunganku, bukan suatu kebetulan lagi gue belum bersaat teduh. Sebenarnya gue tidak mau bersaat teduh saat itu ketika mendengar orang yang paling gue pikir mengerti rasa berbagi ternyata mengsalahartikan donor darah yang gue lakuin. Namun karena kebingungan yang sangat hebat gue memutuskan untuk bersaat teduh. Sebelum gue membuka alkitab dan bahan saat teduh, gue berkata dalam hati “gue berjanji jika bahan saat teduh kali ini tentang menghormati orang tua, gue gak akan melakukan donor darah lagi”.
Aku berdoa....
Dan aku membuka bahan saat teduh ku...
Dan ternyata....
TRANFUSI DARAH YESUS
Inilah judul bahan saat teduh gue saat itu, tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata dan tidak ada yang dapat terfikirkan lagi. Aku membaca ayat alkitab, aku membaca renungannya, dan gue renungi...
Tuhan Maha Tahu, dia mengerti apa yang ada di dalam kebingungan kita, datanglah padanya, dan minta jawaban dariNya, karena dia akan memberikan jawaban yang tidak akan anda pernah duga.
Dan satu hal yang sangat kurenungkan saat itu, gue bersalah karena tidak mengatakan pada si penerima darah, bahwa hanya Darah YESUS lah yang menyelamatkan dan memberi Hidup pada semua orang yang percaya bagiNya.
Sungguh suatu pengalaman yang tidak akan pernah gue lupakan. Didalam kebingungan Yesus tidak pernah melupakan hambaNya walau kita sering melupakannya.

Itu kisah disaat pertama kali gue melakukan donor darah. Hal terpenting lainnya adalah bahwa setiap detik ada orang yang sangat membutuhkan darah untuk sekedar menyambung nyawa lagi dan merasakan indhanya dunia ini.
Sadarilah, bahwa tidak semua orang dapat mengobankan dirinya untuk mendonorkan darah. Cuma modal berani kok, kita udah bisa memberikan peluang untuk nyawa seseorang. Mungkin banyak diantara kita yang belum merasakan urgentnya kebutuhan darah, tapi jangan tunggu sampe kita merasakan kesusahan mencari darah terlebih dahulu.

Donorkanlah Darahmu, percayalah tidak akan rugi bahkan sakit.
PMI berkata "Setetes darah menyelamatkan banyak jiwa"