Dia memiliki nama lengkap Rifqi Maulana, bocah kuper kelahiran
Bireuen 24 Oktober 1994 ini sempat gurunya salah input data jadi tanggal
lahir secara administratif yakni 24 September 1994. Mahasiswa ini sempat gagal kuliah 2 semester karena mahasiswa angkatan 2012 tinggal 6 orang dan kelas pun ditutup dan akhirnya masuk ke kelas lanjutan. Sebelum kenal GMB, Rifqi adalah manusia yang kalo diingat lagi malah bikin diri sendirinya jijik karena super duper negatif.
Anak ini kenal GMB lebih dari 1 tahun lalu, waktu itu rifqi baru
saja menjabat sebagai Ketua BEM, sekitar 3 hari setelah pelantikannya,
isu tentang GMB luar biasa hot di bireuen. Singkat cerita rifqi berjumpa
dengan Bang Darman, GMB pertama di Bireuen namanya GMB Knowledge, disini
awalnya bergabung lebih dari 100 pemuda dalam tiap diskusi. Sharing
knowledge dan peningkatan kapasitas diri adalah inti dari GMB yang satu
ini. Disini rifqi diasah agar "lebih menjadi manusia" hingga menemukan
kerangka berfikir, mengurangi kadar egoisme diri, mengubur
dalam-dalam apatisme terhadap lingkungan sekitar dan menjadi lebih peka.
Waktu berjalan, alam menyeleksi. Dari ratusan pemuda tadi
terhitung setidaknya 15 pemuda bertahan salah satunya dirinya dan Asyura
(GMB 2015). Dengan tujuan meneruskan arwah berbagi GMB setiap dari mereka dituntut untuk membangun social project masing-masing. Dengan keburukan
fisik yang rifqi miliki (gigi rusak ambrekebel amburasun) dirinya tidak
ingin ini dirasakan oleh adik-adiknya karena ini mengurangi rasa percaya diri,
menghambat dalam menggapai cita-cita, dan hal lain.
Lalu rifqi mendirikan GMB Sikat Gigi, saya mengadakan
sosialisasi sebanyak 2 kali di sd di kecamatannya. Gerakan ini gagal
karena rifqi bergerak sendiri, masih minim jaringan. Tiga kepala lebih baik dari satu kepala. 1 agustus 2015 rifqi
bersama 2 teman mendirikan GMB Balai Baca. Menyadari fakta bahwa
keterpurukan pola pikir masyarakat desa dikarenakan minimnya akses
bacaan di masyarakat. Desanya berjarak sekitar 2 km dari pusat kota.
Tapi kesenjangan dalam segala bidang sangat terasa. Ditambah tingkat
pecandu narkoba yang hampir mencapai 80% di kalangan pemuda. Jika
pendidikan akan hal ini tidak di berikan sejak dini, kondisi anak-anak
sepertinya tidak akan jauh beda dengan pemuda ini.
Globalisasi juga
sangat mempengaruhi masyarakat dengan kondisi filter yang minim.
Pengikisan kearifan lokal, pupusnya budaya, permainan tradisional tidak
digemari lagi. Ya, GMB Balai Baca hadir dengan niatan memperbaiki hal ini semampu kami
walau dengan hal kecil dan sering sekali tersandung bahkan sempat
dituding Aliran Sesat oleh bberapa pihak. Dan ya, kami mampu bertahan
dan berkembang hingga sekarang. GMB Balai Baca telah berdiri di 3 titik
di Bireuen. Pengadaan buku bacaan, alat tulis, papan tulis dll semuanya
mengandalkan donasi dari para penderma yang sayangnya kebanyakan bukan
dari putra/i aceh.
Selain itu kami juga punya "Mugee Buku" Sebuah perpustakan keliling menggunakan Keranjang yang dibawa menggunakan motor dan biasanya kami menyasar pusat keramaian.
Terus ada juga yang namanya Ransel Baca, mereka membawa buku
menggunakan ransel dan berpetualang ke pelosok pedesaan dengan kriteria
tertentu dan melaksanakan beberapa kegiatan disana seperti story telling
kepada anak-anak dan beberapa hal lainnya. Mereka juga berusaha menginspirasi pemuda lainnya untul
membangun gerakan sosial diantaranya Gerakan Seratus Rupiab dari siswa
untuk dhuaffa (Berdiri 1 des 2015), GMB hidup sehat punya Rahmah dan
beberapa gerakan lainnya dengan mengharapkan terjadina perubahan pola
sosial.