Senin, 29 Agustus 2016

Congklak "Sederhana namun bermakna"


       Butuh mencari inspirasi untuk menulis tentang yang terjadi hari kemarin, tanggal 29 Agustus 2016 di sebuah Cafe yang bernuansa cozy dan bernama Cozyfield Cafe. Cafe ini berada di sebuah bangunan milik salah satu ritel terbesar di Indonesia yakni Gramedia. Gramedia adalah penyelenggara dari sebuah kompetisi dimana aku mencatatkan sebuah sejarah, sebuah cerita yang tak akan dimakan usia untuk dapat kuceritakan kembali kepada anak-anak yang ku kenal di masa yang akan datang. Gramedia Product Inovation Challenge 2016 atau bisa disingkat GRAPIC 2016 adalah nama kompetisinya. GRAPIC 2016 adalah kompetisi pertama kali dari Gramedia, kompetisi ini mengajak semua kalangan untuk membuat ide mereka tentang sebuah inovasi produk menjadi sesuatu yang nyata.

       Kompetisi yang sudah dimulai sejak pertama kali pendaftaran di bulan Mei ini, menghadirkan banyak kisah dan kasih untuk saya lewati. Cerita sebelum tulisan ini sudah menceritakan sebagian bagaimana kisah dan kasih itu terjadi dalam kompetisi hingga sampai kepada 10 besar peserta GRAPIC 2016. Bayangkan saja dari 884 peserta yang mendaftarkan produknya, saya si inovator amatir ini masuk ke dalam 10 besar GRAPIC 2016. Bukan kah itu pasti menghadirkan banyak kisah dan kasih? Dan dari babak 10 besar sampai kepada hari bersejarah kemarin, kisah dan kasih itu terus berlanjut. Tapi untuk menuliskannya cukup sulit memulai karena saya hampir kehabisan kata-kata untuk menggambarkan apa yang saya rasakan dalam penantian hari bersejarah itu. Tapi, bagaimanapun yang aku tulis semoga dapat memberikan sebuah gambaran tentang proses seseorang untuk mencoba, menjalani, dan penyerahan penuh terhadap Penciptanya.

       Saya adalah pegawai kantoran yang baru bekerja di retail dengan jadwal libur yang tidak tentu dan belum memiliki izin cuti. Izin tidak masuk mungkin saja, tapi bukan itu poinnya, poinnya adalah secara kebetulan di bulan Juli aku membuat jadwal libur bulan Agustus ku di tanggal 29 tepat pada Babak final GRAPIC 2016. Padahal pada saat itu pengumuman 10 besar belum keluar dan baru di awal bulan agustus diumumkan. Kebetulan? mungkin saja, tapi saya lebih percaya itu cara Tuhan. Syarat sebagai 10 besar pun ku penuhi, mengumpulkan CD Softcopy presentasi board dan surat penyerahan HAKI kepada Gramedia. Pengumpulan berkas ini bahkan harus ku kirim melalui transportasi online karena tidak sempat saya yang mengantar sendiri.

       Sebelum aku bertemu dengan para inovator-inovator hebat lainnya, aku berusaha mencari siapa mereka dan bagaimana latar belakang mereka. Ada yang dari bidang design produk ITB, ada yang bidang design produk ITS, dan ada yang sudah mengikuti ajang perlombaan sejenis GRAPIC, bermacam macam latar belakang yang pastinya memberikan kepantasan kepada mereka untuk lolos ke 10 besar GRAPIC 2016. Sedangkan saya hanya seorang lulusan dari Teknik Industri USU. Memang dalam Teknik Industri saya mengenal apa yang namanya design produk. Bahkan Teknik Industri USU sendiri pun memiliki perlombaan Product Design Competition (PDC) yang diadakan setiap tahun. Tapi semasa aku kuliah, tak pernah aku memiliki ide untuk produk inovasi. Bahkan saat sebagai peserta PDC, saya menyerahkan sepenuhnya proses PDC kepada teman sekelompok saya. Kemudian semasa kuliah saya tidak pernah mengikuti perlombaan design produk dari Universitas lain meski sangat banyak yang mengadakannya. INDISCO dari UNDIP dan CHRONICS dari UGM. Waktu itu sempat punya ide untuk CHRONICS tapi karena tak ada teman yang bisa diajak akhirnya batal diwujudkan menjadi Inovasi.
       Perbaikan produk pun disarankan panitia agar lebih maksimal pada saat hari H. Tapi saya tidak bisa berbuat apa-apa lagi dengan produk inovasi saya. hahaha. Saya hanya memperbaiki prosedur permainan yang lagi-lagi minta didesainkan oleh Savudan, Junior berbakat TI USU. Hehe. Lanjut mempersiapkan presentasi di power point yang akan digunakan untuk hari H babak final GRAPIC 2016. Berkali-kali meminta tolong dengan kawan yang jago mendesain presentasi, tapi waktu tak juga mendukung. Akhirnya saya membuat presentasi sendiri dengan desain yang mungkin bisa dikatakan polos. hahaha. Tapi aku tak peduli, kuselesaikan presentasinya tepat sebelum berangkat dari Pasaraya tempat aku bekerja ke tempat penginapan Peserta Final GRAPIC 2016 di Hotel Santika Premier Bintaro.

       Saya pun tiba di Hotel dan bertemu dengan teman-teman seperjuangan, kesan pertama saya adalah mereka orang-orang yang sangat welcome sekali. Sangat cepat akrab dengan mereka. Haha. Tapi ketika menyadari mereka sedang menyiapkan presentasi dengan segala desain desain yang menurut saya canggih (karena saya gaptek hahaha) membuat saya agak down. Sempat down tapi tak berlangsung lama, karena tidak beberapa lama ketika saya dalam keadaan down gambar ini muncul di timeline bbm saya dan membangkitkan kepercayaan diri saya lagi.

Gambar ini memang diupload oleh Dewi dan sebagai hadiah atas wisuda dirinya dari seseorang kerabatnya. Tapi ketika saya melihat ini, saya merasa ini jawaban Tuhan atas rasa down yang saya miliki terhadap presentasi yang saya sudah buat. Aku pun terus menyetel lagu rohani di kamar untuk membuat kepercayaan diriku terjaga agar aku bisa tenang sampai waktunya presentasi tiba. Untungnya satu kamarku (Juara 1 GRAPIC 2016) memiliki agama yang sama dengan saya sehingga tidak terjadi gesekan agama ketika aku menyetel lagu rohani di dalam kamar.

       Obrolan demi obrolan, percakapan demi percakapan, kebersamaan demi kebersamaan, membuat persahabatan diantara kami yang hanya dipertemukan kurang dari 24 jam sangat terasa. Memang tidak semua dari kami ber10 merasakan persahabatan yang sama. Tetapi waktu yang singkat itu mampu membuat saya memiliki kenangan manis bersama dengan mereka. #eaaaaa. 

     Waktu presentasi tiba, sebelumnya kami sudah diundi nomor penampilan presentasi. Waktu pengambilan nomor itu aku sampe berucap "Dalam Nama Tuhan Yesus" dan mendapatkan nomor urut 7. Smpet berpikir bahwa angka 7 adalah angka keberuntungan tapi kemudian aku berpikir ini bukan tentang beruntung atau bukan. Hehehe. Presentasi demi presentasi dengan produk-produk yang luar biasa satu persatu pun berlangsung. Saya merasakan detak jantung yang semakin lama semakin tak memnentu iramanya. Hahaha. Kadang saya berpikir "Tenang. Tenang. Ini semua demi kembalinya anak-anak untuk memainkan permianan tradisional" namun pikiran itu kadang tidak dapat membuat saya tenang. Haha. 

       FYI, titik berat prsentasi peserta lain semuanya berbeda dengan saya. Mereka menitik beratkan kepada produk (bagaimana produk diproduksi, berapa harga pokok produksi, bagaimana produk di produksi massal, dsb) sedangkan saya menitik beratkan pada latar belakang inovasi produk. Permainan tradisional pada gambar di bawah ini memang dipersembahkan untuk membuka mata kita semua orang dewasa bahwa anak-anak sudah tidak bermain bersama dengan teman-temannya lagi. Mereka sekarang bermain gadget dan terus menumbuhkan sifat individualisnya. Ini yang saya ceritakan dalam 3/4 waktu saya presentasi.


       Sadarilah, lihat kesekeliling kita, lihat anak-anak yang ada disekitar kita. Sudah paham kah mereka tentang arti menghargai orang lain? Tentang arti sebuah kebesaran hati terhadap kekalahan? atau tentang arti sebuah kejujuran dalam permainan? Mendramatisir memang, tapi itulah kenyataanya. Jangan heran jika bibit bibit melawan guru, orang tua, dan orang yang lebih tua tumbuh dalam diri anak-anak jika waktu bermain dengan keluarga dan teman teman sebayanya sangat minim. Produk ini diharapkan bisa menjadi alternatif media permianan yang menghadirkan kebersamaan anak anak dengan keluarga maupun teman-teman sebayanya. Jadi apabila produk ini sudah di produksi masal oleh Gramedia dan diperjual belikan, Belilah dan taruh di rumah, jika ada kesempatan bermainlah bersama anak-anak di rumah, buatlah mereka menikmati permainannya hingga suatu saat mereka mengajak teman-teman sebayanya bermain bersama mereka.

       Semua peserta telah presentasi, tak ada rasa penasaran terhadap hasilnya. Aku telah melakukan yang terbaik dan telah melihat banyak presentasi yang lebih baik dari saya. Apapun hasilnya, yang terpenting bagi saya adalah apakah produk ini kedepan akan memberikan manfaat positif atau tidak bagi penggunanya sama seperti pengeritan Inovasi bagi saya yang harus memberikan dampak positif.

       Pengumuman tiba, pertama kali yang diumumkan adalah Juara Favorit dan itu adalah saya sang inovator Congklak menjadi The New Congklak. Lalu bagaimana harus ku mengucap syukur atas berkat ini? Tak tahu, saya tak tahu apa yang saya rasakan setelah pengumuman. Seperti mati rasa, aku lupa, lupa bagaimana aku harus bersikap, aku hanya tersenyum bahagia, senyum yang paling tulus kuberikan. Sayang, foto penyerahan hadiah tidak ada dengan ku, aku penasaran bagaimana rasa senang itu terpancar di wajahku. Sangking senangnya, aku lupa bahwa aku membawa kendaraan pribadi yakni motor ke tempat perlombaan dan berharap dijemput oleh keluarga. Haha

       Juara Favorit, yah Juara Favorit, Juara Favorit ini dipilih oleh juri bukan oleh audience yang datang ke lokasi Final GRAPIC 2016. Jadi aku tidak tahu mengapa The New Congklak dipilih mereka sebagai Juara Favorit. Karena jika dipilih oleh audience itu artinya produk ku paling diminati oleh audience sehingga memberikan gambaran sedikit bahwa jika diproduksi masal setidaknya produk ku mungkin akan banyak terjual. Tapi ini yang memilih dewan juri, aku penasaran mengapa. Hingga akhirnya salah satu dewan juri memberikan komentar di postingan media sosial ku dan berkata "Inovasi yang bagus itu, sederhana namun berdampak positif buat banyak orang. Mudah2an inovasimu diproduksi massal oleh gramedia, jangan lupa warna kayu yang kekinian dan mungkin gambar2nya juga diganti yang lebih kekinian juga", Yoris Sebastian, Salah satu Juri GRAPIC 2016.
       Favorit memang memiliki banyak makna, tapi favorit jelas bukan yang terbaik oleh sebab itu ia terpisah dari Juara 1,2, dan 3 begitu juga dengan perbedaan hadiahnya yang jauh dari ketiga juara itu. Tapi bagi ku Juara Favorit ini memberikan optimisme bagi congklak ini untuk dapat kembali menjadi permainan yang digemari oleh anak-anak.

      Terimakasih Tuhan, terimakasih Gramedia, dan terimakasih Mas Yoris Sebastian dan Kak Diana Rikasari telah menyematkan Juara Favorit kepada produk saya The New Congklak. Dan untuk siapapun di luar sana, kita yang dewasa mempunyai tanggung jawab untuk membangun karakter anak-anak menjadi karakter yang baik dan sehat. Bermainlah dengan mereka dan tebarkan semangat kebersamaan untuk Indonesia Raya! #EAAAAAA


                                                                                                                       Pasaraya, 30 Agustus 2016
Salam,
Inovator Amatir


Edgard Lam Martua

Selasa, 09 Agustus 2016

Campur Tangan Tuhan di GRAPIC 2016



Sumber : https://www.facebook.com/gramediastore/photos/a.187158490233.268257.106462695233/10157149797570234/?type=3&theater


Gambar ini, memberikan sebuah cerita yang sangat panjang sekali. Berawal dari sebuah informasi tentang adanya perlombaan Gramedia Inovation Challenge (GRAPIC) 2016 yang saya tahu entah dari mana sumbernya, kemudian saya tertarik untuk mengikutinya. Waktu itu saya mulai mencari ide untuk mengikuti perlombaan ini, hingga akhirnya tercetuslah ide yang bisa diikutsertakan di perlombaan ini. Ide muncul dari inspirasi pekerjaan saya di Pasaraya Departemen Store Blok M. Masih belum berani untuk ikut sendirian di perlombaan ini, saya mulai mencari teman untuk mengikuti perlombaan ini. Dua sampai tiga orang mungkin juga lebih teman yang saya ajak tidak ada yang mengiyakan dan menyanggupankan ajakan saya. Waktu itu H-5 sebelum ditutupnya seleksi pertama GRAPIC 2016 ada teman yang saya ajak dan mengatakan "Sudah tidak keburu, tidak mungkin ikut GRAPI 2016". Begitulah kira-kira ucapannya. Hingga akhirnya saya mengambil jalan sendiri yang kemudian dibantu oleh junior Multi Talenta Savudan Sihombing. Dengan bantuan Savudan yang membuat gambar tiga dimensi ide produk saya, kemudian saya lanjutkan dengan membuat presentasi board akhirnya hari H penutupan saya mengirim ide produk saya di GRAPIC 2016. Saat itu ternyata pendaftaran tahap pertama GRAPIC 2016 diundur, tapi tak apalah toh saya juga sudah mengirim presentasi board saya.

Akhirnya pengumuman 100 besar pun keluar, email dari panitia masuk ke email saya. Semula saya berpikir diundurnya pendaftaran tahap pertama GRAPIC 2016 dikarenakan sedikitnya peserta yang mendaftar namun ternyata mungkin panitia punya alasan lain mengundur waktu penutupan pendafataran. Betapa terkejutnya ketika email dari panitia mengatakan bahwa saya lolos sebagai salah satu peserta 100 besar yang terpilih dari 884 peserta atau produk yang mendaftar di GRAPIC 2016. Jumlah yang sangat fantastis!

Hingga suatu kali ada salah satu peserta yang menajak peserta 100 besar lainnya membentuk suatu group obrolan di aplikasi mobile. Group ini berjudul "100 Inovator GRAPIC 2016". Group ini membuat aplikasi chatting saya lebih berbobot terlihat. Hahaha. Orang-orang yang humble, seru, gokil, dan penuh semnagat serta positif thingkingnya sangat terasa di group ini.

Kemudian waktu yang cukup panjang untuk mempersiapkan diri ke tahap selanjutnya yakni pengumpulan prototype di tanggal 31 Juli sedikit membuat saya terlalu santai. Hehehe (Jangan dicontoh ya). Hingga akhirnya saya agak kelabakan juga ketika mengajukan pembuatan prototype ke pengrajin kayu yang ternyata membutuhkan waktu yang lama karena terbentrok dengan hari raya Idul Fitri. Tapi untungnya semua masih bisa dikerjakan walau harus dikejar deadline. Ditengah-tengah pengerjaan prototype, ada pergumulan yang terjadi yakni Lolosnya saya juga di 131 peserta National Camp GMB 2016. Acara hari H National Camp GMB2016 sedikit memotong waktu persiapan prototype produk saya. Tapi saya berkelakar, jika tak ikut Camp GMB maka saya juga tak akan menyelesaikan prototype produk saya. Ini unutk memotivasi saya tetap mengikuti camp, karena menjadi bagian dari GMB juga merupakan bagian dari mimpi saya.

Kendala pembuatan prototype tak berhenti sampai disitu meskipun sudah selesai dan saya kirim ke panitia, dana yang sangat minim membuat saya sedikit kekeringan di bulan setelahnya . Hingga akhirnya saya mencoba menawari teman-teman untuk menjadi sponsor dengan ketentuan jika lolos 10 besar uang yang diberikan kepada saya, saya ganti dua kali lipat, jika tidak lolos saya hanya ganti 50% saja. Tapi, tak ada yang mau jadi sponsor. Hahaha. Kemudian saya tawarkan ke saudara saya dan lumayanlah mendapat sebagian dana dari seluruh dana yang saya keluarkan untuk prototype.

Bagaimana kemudian campur tangan Tuhan? Mungkin cerita diatas belum terlalu menggambarkan.

Waktu itu, hari minggu tanggal 1 Agustus 2016, saya merasakan dorongan untuk melakukan perubahan dalam hidup saya. Firman Tuhan pada waktu itu menyadarkan saya untuk memiliki karakter seperti manusia baru sejati. Dan saat itu juga saya memutuskan untuk berpuasa. Puasa Kristen yang saya tahu dari tulisan kak Tika Anggreani Purba lah yang saya lakukan. Satu minggu sampai tanggal 8 Agustus saya berpuasa, saya menyerahkan kepada Tuhan tentang pengharapan saya di GRAPIC 2016. Puasa yang baru pertama kali saya lakukan ini, memang tidak banyak halangan tapi cukup membuat saya berkaca bahwa ada pengorbanan yang harus saya lakukan untuk membuktikan betapa besarnya pengharapan yang saya miliki kepada Tuhan. Di dua terakhir cobaan cukup berat untuk membatalkan puasa, bagaimana tidak godaan traktiran teman datang di. Hahaha. Saya berusaha untuk taat dalam HPDT saya dalam satu minggu itu dan mejaga setiap HPDS yang ada. Saya sangat berharap terlebih lagi dengan kebutuhan uang yang sedang sangat dibutuhkan. Hingga akhirnya hari selasa ini, saya selalu memperhatikan dengan sigap setiap gemetar yang terjdi di handphone saya. Dan benarlah tibanya saat pengumuman itu datang dan menyatakan saya lolos 10 besar GRAPIC 2016.  Rasa syukur yang tak terhingga kusampaikan atas berkat Tuhan, atas pegertian Tuhan, atas jawaban Tuhan, dan atas kebiakan Tuhan.

Tulisan Semangat ini juga bukan hanya untuk berbagi kesaksian saya, tapi juga berbagi bahwa kompetisi belum berakhir. Kemenangan bisa diperoleh dimanapun. Pandanglah setiap kesempatan yang ada dan manfaatkan. Berserahlah penuh kepada Tuhan dan jangan bersandar pada kemampuan sendiri. Kalah menang urusan belakangan, pengalaman adalah harta yang lebih berharga dari sebuah kemenangan. Menang dari keputusasaan, egoisme, dan keangkuhan adalah kemenangan sejati.

Terimakasih yang sebesar-besarnya juga saya sampaikan kepada Gramedia atas kesempatan yang diberikan. Sampai bertemu di tanggal 29 Agustus 2016.

Salam...


Inovator Amatir
Edgard Lam Martua