Minggu, 05 April 2015

Tuhan Kirim Dokter buat Mama

Tuhan Kirim Dokter buat Mama

           Namaku Edo Lamanepa, putra asli kelahiran Kota Soe. Tahukah teman-teman dimana Kota Soe? Kalo tahu, sungguh banggalah hati ini menjadi warga Kota Soe. Betapa tidak Kota Soe hanyalah sebuah daerah terpencil di ketinggian Provinsi yang juga terpinggirkan, NTT. Yap, Kota Soe berada di Provinsi Nusa Tenggara Timur dan terletak di ketinggian 1000 mdpl, jauh dari keramaian hingar bingar perkotaan seperti di Kota Kupang, Kota Soe jauh lebih tenteram ditambah dengan keadaan cuaca dinginnya yang membuat badan membeku.
           Kota Soe merupakan Ibu Kota Kabupaten Timor Tengah Selatan, meski Ibu Kota Kabupaten, Kota Soe tidak seberkembang Kabupaten tetangganya Kupang. Antara kedua kabupaten ini dibatasi oleh Jembatan yang dinamai Noelmina. Posisi Soe yang berada di bukit meletakan situasi alam wilayah ini kontras dengan Kota-kota lain di daratan Pulau Timor. Pulau Timor yang identik dengan temperatur udara yang panas “terpatahkan” jika anda telah berada di Kota ini.
         Ada dua hutan kota yang sangat lebat, menyediakan oksigen yang berlimpah, sekaligus air bersih yang berlimpah bagi warga kota Soe, yakni hutan Air Besi dekat kampung Sabu dan hutan Oenasi di kelurahan Taubneno. Begitulah sedikitnya dari sekian yang tidak terlalu banyak juga tentang Kota ku, SOE.
            Pagi itu  matahari tidak terlalu bersinar terik dan hembusan angin dingin cukup membuat badan menggigil. Aku melihat ibu sedang merenda kain tenun khas SOE di depan rumah.
“Selamat pagi mah, gimana keadaan mama?”
“Selamat pagi Edo, sudah bangun kamu. Sarapan dulu sana. Mama baik-baik saja, hanya terkadang adikmu ini sedikit nakal jadi buat sakit perut mama”
“Nanti kalo sudah lahiran, ku marahi adek ma karena sudah nakal waktu di perut mama”
“kamu gak boleh begitu Edo. Kamu pun waktu dalam perut mama juga begitu toh”
“hehehe, yasudalah ma, aku sarapan dulu ya ma. Mama sudah sarapan?”
“yasudah. Mama sudah sarapan kok”
Oh iya, Mamaku sedang mengandung, dan mungkin dalam waktu dekat ini akan melahirkan.

        Ku lihat makanan yang terdapat di rumah, hanya sedikit nasi serta lauk yang sangat-sangat sedikit. Maklumlah ayah ku hanyalah seorang petani dan ibu hanya bisa merenda kain tenun khas SOE. Pendapatan yang tidak banyak di keluarga kami membuat kami hidup seadanya.
Aku curiga kalo mama ku belum sarapan. Tapi selalu begitu jawabnya kalo aku tanya sudah sarapan atau belum. Aku curiga kalo mama ku hanya menyiapkan sarapan untuk ku.

“Ma, aku susul papa ke ladang ya”
“Hati-hati kau nak ya, jangan terlalu capek”
“Oke ma”
             Aku kemudian berlari gembira ala-ala anak polos yang semangat membantu ayahnya bertani.
“pah, bagian mana yang belum diberi pestisida?”
“sebelah kiri sana Edo, ambillah penyemprotnya itu. Jangan terlalu banyak kamu semprotkan yah.”
“Oke pa”
           Beginilah aktivitas ku setiap hari, membantu papah bertani. Aku putus sekolah karena mama dan papah ku tidak mampu membiayai sekolah ku. Biarlah aku membantu orang tuaku agar kelak adikku dapat bersekolah dan lebih baik dari ku.
             Sembari memandang persawahan nan hijau...
“Pah, berapa lama lagi mama melahirkan?”
“Mungkin 1 bulan lagi Edo.”
“Kalo mama lahiran nanti kita bawa ke mana pah? Ke Rumah Sakit di Kota kah pah?”
“Tidak mungkin Edo, kita tidak ada biaya ke Rumah Sakit, biarlah ke Puskesmas dekat sini aja kita bawa”
“Tapi jarang ada dokter di Puskesmas pah”
“Yah, siapapun yang bisa di puskesmas lah. Semoga saja nanti pas lagi ada dokter Edo.”
“Semoga ya pah”
            Namanya saja yang Kota. Tapi sebenernya SOE adalah sebuah pedalaman yang jauh dari hiruk pikuk keramaian kota. Keterbatasan sarana kesehatan di sini membuat wajar kota Soe menjadi daerah dengan tingkat kematian Ibu dan Anak yang tinggi.

           Menjelang kelahiran adikku, aku setiap hari pergi ke puskesmas, melihat apakah ada dokter atau tidak. Ketika suatu hari aku pergi, aku melihat suasana puskesmas sedang ramai.
“Ada apa ini Glen?” tanya ku kepada teman ku.
“Ada dokter yang baru tiba di puskesmas ini. Kau tahu berapa jumlah dokternya?” Jawab Glen dengan penuh gembira.
“tidak, berapa glen?”
“EMPAT!!!!”
“Waaaawwwww.....” Aku tersenyum bahagia dan masuk ke dalam puskesmas.

          Ku salami mereka satu persatu. Mereka masih muda. Entah siapa yang mengirim mereka. Mungkin mereka tersesat ke Soe.
“Kakak semua dari mana? Mengapa bisa ke Kota kami?” aku bertanya kepada salah satu dari mereka
“Kami dari Sumatera Utara, kami dokter yang sedang mengikuti program pemerintah. Jadi kami disini atas perintah Pemerintah Pusat. Nama adik siapa?”
“Aku Edo Lamanepa kak, nama kakak siapa?”
“Nama kakak Herman, yang pakai baju merah namanya kak Ria, yang pakai baju putih namanya kak Doni , dan yang terakhir yang pakai baju hijau namanya kak Roby.” jawab kak Herman sambil menunjuk teman-temannya.
“kak, ayok main ke rumah aku. Mama ku sedang mengandung dan belum pernah di periksa kesehatannya sama dokter”
“tunggu ya adik, kaka beres-beres dulu”
“sekarang saja kak, ayok kak, ayok.” Aku menarik tangan kak Herman dan memaksanya pergi ke rumah ku.

           Kami tiba di rumah...
“Mah, pah, ada dokter....”
Mama dan papa kemudian keluar menyambut kami.
“Hai nak dokter, silahkan masuk. Tidak usah sungkan. Rumah kami memang tidak terlalu nyaman untuk ditinggali.”
“oh iya pak, terimakasih. Gapapa pak.”
“Silahkan duduk dulu ya nak, biar bapak ambilkan teh.” Papah kemudian pergi ke dapur mengambil air putih.
“Jadi sampe berapa lama kamu disini nak dokter?” tanya ibu ku.
“sampe 1 tahun ke depan buk.”
“Berarti kelahiran saya bisa ditangani sama dokter kan?”
“Iya bu. Ibu tenang saja. Sudah berapa usia kehamilannya buk?”
“mungkin sekitar 8 bulan nak.”
“berarti sebentar lagi  ibu akan melahirkan. Ibu jaga baik-baik kondisi ibu ya, jangan terlalu lelah. Banyak berdoa dan berserah sama Tuhan ya.”
“iya dokter, tapi kami jarang sekali berdoa. Gereja jauh dari tempat kami, pendeta pun jarang datang ke daerah ini.”
“Berdoa tidak harus di gereja ibu. Ibu hanya cukup menutup mata dan melipat tangan, rasakan bahwa Tuhan ada di dekat ibu dan katakan apa yang menjadi harapan ibu.”
“Iya, kami pernah berdoa dokter tapi harapan kami tidak terkabul” kata papah sembari meletakkan gelas.
“Bapak, Ibu, dan Edo, harapan kita tidak selalu terkabul seketika itu juga saat kita berdoa. Ada waktunya, kita harus sabar menanti jawaban Tuhan. Tapi terus taat mendoakannya.”
“Kak, aku tidak tahu apa itu doa. Apa doa itu kak?”
“Doa adalah sesuatu yang kita pakai untuk menguhubungkan kita dengan Tuhan Yesus adik. Yesus yang telah menyediakan tempat bagi kita di Surga.”
“Surga?”
“Iya Surga. Tempat akhir bagi setiap manusia yang Percaya bahwa Yesus adalah Allah yang menyelamatkan hidupnya.”
“ohh. Aku bingung jadinya kakk”
“yasudalah Edo, nanti saja diteruskan pertanyaannya yah.”

        Perkenalan pertama keluarga ku dengan kak Herman sangat berkesan. Kak Herman sangat ramah dan baik hati.

          Setiap hari setelah membantu ayah di ladang aku pergi ke puskesmas untuk melihat kak Herman dan teman-temannya mengobati pasien. Terkadang ketika tidak ada pasien aku mengajak kak Herman berkeliling.
“Kak, jadi dokter itu susah ya kak?”
“Tidak ada yang sulit untuk menjadi apapun adik. Asal kita mau belajar dan bekerja keras mencapainya. Tapi jangan lupa juga berdoa.”
“Waktu aku sekolah aku rajin belajar kok kak, Cuma sekarang sudah tidak sekolah lagi”
“Kalo begitu apa yang Edo impikan suatu saat nanti?”
“Menyekolahkan adik ku sampai jadi dokter seperti kakak.”
“Wah, itu baik sekali. Kalo begitu Edo harus kerja keras dan rajin berdoa biar Tuhan kasih berkat sama Edo hingga bisa menyekolahkan adik Edo menjadi dokter.”
“Iya kak. Kaka kenapa jadi dokter?”
“Kakak punya mimpi suatu saat nanti bisa mengobati banyak orang yang tidak memiliki banyak biaya berobat.”
“Seperti di tempat tinggal ku ini kak?”
“Iya begitulah salah satunya Edo.”
“kakak baik sekali.”
“Seperti itulah kita harusnya Edo, menjadi berkat untuk banyak orang apapun pekerjaan kita.”
“Kalo Edo bertani, juga sudah menjadi berkat bagi banyak orang. Edo memberikan beras untuk banyak orang.”
“Iya kak? Berarti aku harus semangat terus bertaninya yah?”
“Betul sekali Edo.”

Aku jadi sangat dekat dengan kak Herman. Aku senang sekali bisa berkenalan dengan kak Herman.

Suatu hari tiba waktunya mamah melahirkan.
Aku berlari ke puskesmas....
“Kak Hermaaannn, kak herman, kak herman” Begitu terus aku berteriak sambil berlari ke puskesmas.

“Kak hermaan, mamah sudah mau lahiran.....”

Kak herman segera bergegas dan kemudian berlari bersama ku ke rumah.......

Keadaan mamah ku sudah tidak kuat lagi, tidak bisa dibawa ke puskesmas. Kak Herman terlihat kebingungan dan was-was. Peralatan semuanya ada di puskesmas. Kak Herman berpikir mamah ku masih bisa dibawa ke Puskesmas.
Dengan segala keterbatasan yang ada, Kak Herman melakukan proses kelahiran adikku di rumah ku.

Keadaan menjadi sangat menakutkan, lalu aku pergi dan berlari lagi ke puskesmas untuk memangil teman kak Herman.
Aku berlari lagi bersama teman Kak Herman ke rumah.

  Sekarang sudah ada peralatan yang mencukupi. Aku tidak tahu bagaimana mamah melahirkan. Yang ku dengar terkadang ribut namun juga terkadang sunyi.

Aku dan papah menunggu di depan rumah.

Hingga akhirnya adikku lahir dengan selamat. Tapi.....



Tapi mamah ku!!!!! Tidaaaaaaaaakkkkkkkk, mamaaaaaaaaaaaaahhhhhhh.......

“Kak Herman Jahaaaaattttt!!!!!!! Kak Hermaaan Jahaaaatttt!!!!!”


       Keadaan menjadi begitu menyakitkan saat kak Herman dan temannya tidak bisa menyelamatkan mamah ku. Hanya adikku yang dilahirkan selamat.
       Aku sedih, aku teringat dengan kalimat ku akan memarahi adikku karena dia sudah nakal ketika di perut mama. Kini aku kembali semakin marah, karena kelahirannya telah membuat mama pergi. Tapi aku juga teringat akan pesan mama bahwa aku tidak boleh memarahi adikku, karena aku pun demikian.
      Aku kecewa dengan kak Herman, aku pikir kak Herman baik. Waktu pertama kali aku dengar ada dokter yang tiba di puskesmas aku pikir mama akan baik-baik saja. Aku pikir, yah aku pikir. Semuanya aku pikir. Lalu aku lupa pesan kak Herman yang berkata bahwa aku juga harus berdoa. Mungkin Tuhan sudah tepat, membuat mamah pergi dan aku masih hidup. Mungkin karena mamah sudah dekat dengan Tuhan dan aku belum.  
        Aku marah dengan adikku yang baru dilahirkan. Tapi aku teringat janji ku dengan kak Herman akan menyekolahkan adikku sampai ia menjadi dokter. Aku teringat akan terus bekerja keras untuk menjadi berkat bagi banyak orang sebagai petani.
        Yah, begitulah. Begitulah hingga waktu terus berjalan. Aku tetap dekat dan bersahabat dengan Kak Herman. Dia mengajari ku banyak hal selama tinggal di kota ku. Dia membawa ku lebih dekat dengan Tuhan. Dia membimbing ku untuk terus melakukan yang sesuai dengan Firman Tuhan.
         
Sumber Gambar : http://www.suryantt.com/suryantt-berita--anak-pns-dapat-bantuan-siswa-miskin.html

         Tuhan mengirim kak Herman untuk satu tujuan. Aku pun harus yakin bahwa Tuhan juga punya satu tujuan bagiku. Terimakasih Kak Herman.

Rabu, 01 April 2015

Cerita Pendek "SAHABAT MERDEKA"



SAHABAT MERDEKA


“Kalian tahu gak, ada 1 persahabatan yang sulit ditemukan di dunia ini?” Tanya Bimo kepada sahabat-sahabatnya yang seketika itu juga memecahkan keheningan malam tahun baru di rumah Doni.
            Doni, Liem, Putu, Bimo, dan Catherine adalah 5 remaja yang bersahabat sejak mereka SMP di salah satu Sekolah swasta yang ada di Kota Jakarta. Sebenarnya mereka sejak SD telah lama saling mengenal, sebab mulai SD sampai saat ini kelas 3 SMA mereka berada pada satu sekolah yang menyediakan pendidikan dari SD sampai SMA. Saat SMP barulah mereka menjalin dan membangun persahabatan anak remaja yang selalu diwarnai pertengkaran namun juga menghadirkan kebersamaan yang sangat berarti.
“Tahu gak yaa?” celetuk Doni yang disambut tawa oleh teman-temannya ‘Hahahaha”. Bimo menahan senyumnya dan melanjutkan pertanyaannya “Ah, rese lo. Serius nih, kalian tahu gak?”. Catherine akhirnya merespon pertanyaan Bimo “ia deh, emang apa ?”. Bimo lalu mencolek dagu Catherine dan berkata “gitu donk, hehe”. Reaksi genit Bimo langsung dipatahkan oleh Putu “eh, tadi lo bilang serius, kenapa jadi genit gitu? Cepetan deh lo cerita apa yang lo tahu tentang pertanyaan lo?”. Bimo pun menjelaskan “Nah, begini. Persahabatan yang sulit ditemukan di dunia ini adalah persahabat yang kaya kita ini. Persahabatan lintas SARA meeennnn...”. Sahabat-sahabat Bimo yang mendengarkan serentak berkata “oooohhhh...” yang dilanjutkan dengan ketawa kecil.
            Lima remaja ini memiliki keberagaman dalam membangun persahabatan mereka. Doni adalah anak dari seorang Haji dan Saudagar asal Makassar, Liem adalah Putra keturunan Tiongkok-Budha namun tetap cinta Indonesia, Putu adalah anak yang lahir di Bali namun pindah dan menetap di Jakarta mengikuti kedua orangtuanya, Bimo adalah anak seorang Pemilik Toko Rohani, dan Catherine adalah Putri Khatolik Jawa nan cantik rupawan. Entah bagaimana mereka dapat bersama menjalin persahabatan yang sampai saat ini masih bertahan bahkan telah sampai pada usia lima tahun terhitung sejak kelas 1 SMP.
            Bimo melanjutkan percakapan diantara mereka “Begini, kalian masih inget gak saat kita bikin ketupat lebaran bareng di rumah Doni tapi yang ada ketupatnya malah mentah dan gak mateng”. Putu melanjutkan perkataan Doni “Ia,ia, w inget dan saat itu kita buang ketupat yang gak mateng itu supaya gak ketahuan sama orang tua Doni. Ia kan?”. Liem pun mengikuti alur percakapan sambil menujuk kepada Putu “hahaha, iya itu lucu banget. Kalian inget juga gak waktu 2 tahun lalu saat dia berusaha memasang Bintang di atas pohon Natal rumah Bimo tapi dia malah jatuh”. Bimo menyahut cerita Liem “Hahahaha, sumpah itu kasihan banget. Untung aja Pohon Natal w gak ikutan jatuh, kalo enggak kita harus susun ulang. Hahaha”. Putu yang merasa tersinggung kemudian membela diri “Lagian bangkunya kurang memadai untuk dinaiki sih”. Namun yang lainnya justru mengejek dan berkata dengan kompak “Itu sih derita lo!!!! Hahahaa”
            Malam tahun baru larut dalam suka, tawa, dan canda diantara 5 sahabat ini. Cerita demi cerita yang kocak dan mengelitik mengenang persahabatan mereka selama ini terus mengalir dari satu orang ke orang lainnya. Maklum saja, baru dimalam tahun baru ini mereka diperbolehkan oleh kedua orangtua mereka untuk dapat menghabiskan satu malam pergantian tahun itupun karena disalah satu rumah mereka. Sebelum mereka menutup mata sampai pagi tiba, Bimo menutup percakapan mereka “Sekarang kalian tahu kan, kenapa persahabatan kita ini w bilang sebagai persahabatan yang sulit ditemukan di Dunia” Doni kemudian menambahkan “Iya, persahabatan kita seperti sebuah cerita Novel yang sepertinya tidak akan pernah terwujud sampai w bisa menghitung jumlah rambut yang ada di kepala w” sontak mereka pun tertawa “Hahahahaha”. Sambil menatap ke langit, mereka pun tertidur. Sebelum Bimo menutup matanya, dia sempat berkata kecil “Biarpun ini seperti khayalan, semoga kita dapat membuka mata dunia”.
            Kelas 3 SMA menjadi sebuah tingkatan pendidikan yang sangat menakutkan bagi sebagian Pelajar yang ada di Indonesia begitu juga dengan Doni, Putu, Liem, Bimo,  dan Catrherine. Yah, di kelas 3 SMA ini, pelajar akan melewati masa-masa menakutkan yang bernama Ujian Akhir Nasional atau yang biasa dikenal dengan UAN. Sedikit banyak UAN saat ini sudah cukup meringankan para pelajar. Namun tetap saja UAN menjadi momok bagi sebagian Pelajar yang tidak memiliki mental cukup baik untuk melewatinya.
Hanya kurang lebih 1 bulan lagi Doni, Putu, Bimo, Liem, dan Catherine akan menghadapi Ujian Akhir Nasional. Putu merupakan siswa yang lebih kreatif dibandingkan dengan ke 4 temannya namun tidak semua mata pelajaran yang diUAN kan dikuasai dengan baik oleh Putu. Hal inilah yang membuat Putu paling khawatir dibandingkan dengan ke4 temannya.
“Kurang dari 1 bulan lagi nih...” kata Catherine membuka percakapan diantara mereka seusai mengikuti pelajaran tambahan sebagai persiapan siswa untuk menghadapi UAN. “Gimana, kalian udah siap kan?” lanjutnya. “Kalo w sih udah, kalian tahu sendiri nilai Try Out w selalu bagus. Hehehe” kata Bimo menjawab pertanyaan Catherine. “Ah, sombong lo! W doain Kualaaaaa....” sahut Doni menanggapi jawaban Bimo yang langsung dipotong oleh Putu “usssttt, gak boleh doain temen kualat. Kita itu harus saling dukung men. Jujur aja w masih khawatir nih”. “Lo khawatir kenapa Put? Mata pelajaran apa yang kayanya lo kurang yakin?” Tanya Liem kepada Putu. “Ia, Biologi kayanya masih membuat w muter-muter di hapalan yang itu-itu aja. Kimia juga agak ragu w” Jawab Putu kepada Liem. “Yaudah gini aja, gimana kalo kita tambahin jam belajar kita di rumah. Kita belajar bareng supaya bisa berdiskusi, berdiskusi menambah keseruan dalam belajar dan menambahkan daya ingat kita loh” Liem kemudian memberikan solusi yang kemudian disetujui oleh teman-temannya.
Waktu terus berlalu dan tibalah saat Ujian Akhir Nasional dimulai. Ke 5 sahabat ini pergi secara bersama-sama menuju sekolah. Setibanya di sekolah mereka berkumpul dahulu sebelum memasuki ruangan ujian. “w gak tahu gimana perasaan kita masing-masing. Supaya kita bisa lebih rileks mengerjakan soal, alangkah lebih baiknya kita berdoa bersama terlebih dahulu. Kita doain supaya setiap dari kita dapat mengerjakan soal-soal UAN dengan lancar” Kata Doni memulai pembicaraan diantara mereka. “iya betul banget kita harus satukan doa kita supaya kita dan teman-teman kita yang lain di SMA ini bisa lulus 100%” Lanjut Bimo. “Oke, sekarang mari kita berdoa sesuai dengan Agama kita masing-masing. Berdoa dimulai” kata Doni. Mereka kemudian berdoa dengan Agama mereka masing-masing. “berdoa selesai” Doni pun mengakhirinya.
Keadaan menjadi sangat mengkhawatirkan saat Ujian Akhir Nasional mata pelajaran Biologi, saat itu Liem yang 1 ruangan dengan Putu melihat Putu begitu khawatir dalam membaca soal-soal Mata Pelajaran Biologi. Putu tidak bisa diam, kepalanya terus memperhatikan sekitar dan melihat waktu di jam tangannya. Mukanya berkeringat yang menunjukkan dia mendapatkan masalah dalam mengerjakan soal-soal Biologi. Putu akhirnya meminta izin kepada pengawas untuk ke Kamar Mandi. Mungkin Putu ingin menenangkan dirinya disana. Liem yang melihat temannya itu hanya berharap diskusi tambahan yang dilakukan kurang dari 2 minggu dapat membantu nilai Biologi Putu minimal di angka standard kelulusan.
Mereka telah melewati masa-masa menegangkan dalam Ujian Akhir Nasionaldan kemudian Ujian Akhir Sekolah. Pengumuman kelulusan pun tiba....
Mereka Lulus! Sekolah mereka lulus 100%. Mereka menyambut dengan  kegembiraan dan keceriaan. Namun ada hal lain yang membuat mereka tidak dapat berlama-lama larut dalam kegembiraan. Yah, Pendidikan lanjut. Sebuah keputusan berat yang harus mereka ambil untuk menentukan masa depan mereka. Doni direncanakan oleh ayahnya untuk mengambil Pendidikan di Mesir sedangkan Catherine ke Tanah Eropa, Bimo harus mengikuti jejak ayahnya dan juga memang cita-citanya untuk sekolah di Pelayaran, Putu sepertinya harus kembali ke Bali untuk menepuh studinya di salah satu Perguruan Tinggi Negeri disana, terakhir Liem tetap di Jakarta dan mengambil pendidikan Bisnis di Universitas Swasta.
            Situasi ini membuat mereka beberapa hari tidak bertemu. Memikirkan bagaimana kehidupan bersosialisasi yang akan mereka lanjutakan tanpa persahabatan yang telah mereka jalani selama ini. Persahabatan yang mereka bangun telah membuat pemikiran lintas perbedaan yang sangat kuat dalam pribadi mereka masing-masing. Sehingga membuat Doni dan Catherine bertanya-tanya dalam hati apakah mereka dapat menyesuaikan diri dengan baik di lingkungan yang sangat berbeda dengan Negara yang ia cintai ini. Keputusan akan sebuah masa depan yang mungkin bagi sebagian orang memang mudah tapi bagi mereka terpisahkan bertahun-tahun lamanya dengan sahabat adalah suatu keputusan yang sangat sulit. Tetapi memang cita-cita lah yang terutama sambil berharap suatu saat waktu membuat mereka kembali bersama.
            Putu mempunyai ide kreatif untuk membuat perpisahan diantara mereka menjadi lebih berkesan agar terus terkenang dalam memori mereka. Putu berinisiatif untuk mengajak mereka mendaki Gunung Salak yang terdapat di Kabupaten Bogor. Gunung salak tidak relatif tinggi hanya 2.221 m dpl sehingga layak untuk didaki oleh remaja seperti mereka. Meski tergolong sebagai gunung yang rendah, akan tetapi memiliki tingkat kesulitan cukup tinggi, baik karena karakteristik vegetasi maupun medannya. Sehingga untuk mendapatkan tingkat keamanan yang lebih tinggi maka Putu memutuskan untuk melalui jalur yang paling banyak dilalui, Curugnangka yakni sisi utara gunung yang akan sampai pada Puncak Salak II. Kira-kira begitulah informasi yang diperoleh Putu mengenai Gunung Salak dari internet.
            Putu kemudian memberitahu rencana ini kepada Doni, Bimo, Liem, dan Catherine. Pucuk dicinta ulam pun tiba, mereka semua setuju atas ide Putu. Rencana pendakian pun dipersiapkan dengan matang agar pada tanggal 17 Agustus mereka dapat bersama-sama mengibarkan Bendera Sang Saka Merah Putih di atas puncak Gunung Salak. Tidak lupa mereka meminta izin kepada kedua orang tua mereka. Ada yang mudah mendapatkan izin namun juga ada yang harus bersusah payah menjelaskan kepada kedua orang tua meraka.
            Waktu pendakian pun tiba, mereka sudah tiba di kaki Gunung Salak, Curugnangka tanggal 17 subuh kira-kira pukul 1 pagi. Mereka beristirahat di Pos Curugnangka menunggu langit agak terang sehingga perjalanan mereka dapat lebih aman. Waktu menunjukkan pukul 04.30 WIB mereka lalu memutuskan untuk berangkat ke atas Puncak Gunung Salak. Kebetulan pada saat itu ada rombongan pendaki lain yang mendaki bersamaan dengan mereka. Setidaknya ini membuat mereka lebih aman karena tak ada satupun dari mereka yang pernah mendaki Gunung Salak.
            Perjalanan dari kaki gunung Curugnangka sampai kepada pos 3 masih aman terkendali mereka lalui. Perjalanan yang serius namun sesekali mereka bergurau dan bercanda bahkan ada saja yang menakut-nakuti Catherine dalam perjalanan. Ketika ada medan yang sulit dilalui, mereka saling membantu bahkan tak jarang rombongan pendaki lain turut membantu perjalanan mereka berlima. Ketika rombongan pendaki lain beristirahat, mereka pun ikuit beristirahat. Dalam peristirahatan yang sejenak itu mereka berkenalan dengan rombongan lain dan mengobrol membangun sebuah komunikasi yang hangat diantara para pendaki dan pencinta alam. Saling berbagi bekal pendakian adalah suatu hal yang lumrah dikalangan pendaki. Selesai beristirahat perjalanan pun dilanjutkan. Meter demi meter pendakian mereka lalui, hingga sesaat setelah melewati Pos ke 5 dan hampir sampai di puncak Catherine terjatuh.
“Aaaaarrggghh” teriak Catherine yang salah langkah pada saat melewati track yang agak sulit. “tolong.tolong” Putu kemudian memanggil rombongan lain untuk turut membantu Catherine. Catherine lalu disandarkan ke batang pohon dan kakinya mendapatkan pertolongan pertama. Salah satu dari rombongan lain yang mengerti tentang P3K pada jalur pendakian memeriksa kaki Catherine. Untunglah kakiknya tidak begitu parah, hanya keseleo sedikit dan cukup diberi penahan serta perban untuk dapat membantunya menahan sakit hingga tiba di atas puncak. Perjalanan dilanjutkan dan Catherine dibantu oleh Bimo untuk sampai ke Puncak Salak II.
Mereka tiba di Puncak Salak II dan sesaat setelah beristirahat sejenak, mereka melakukan seremoni pengibaran bendera sederhana. Ketika tiang dan bendera telah terpasang dan terpancang, mereka kemudian menyanyikan lagu Kemerdekaan RI sambil melakukan horrmat kepada Bendera Merah Putih.
“eh,eh putar lagu Indonesia Pusaka donk. Biar lebih berasa terharunya” canda Bimo kepada teman-temannya. “ia,ia, bener banget, biar kaya di film-film. Hahaha” sahut Doni menyambung pernyataan Bimo. “Lagu Indonesia Pusaka menggetarkan jiwa banget meen, terbakar nasionalisme w kalo denger lagu itu” lanjut Liem menimpali kedua perkataan temannya. Lagu Indonesia Pusaka pun diputar melalui gadget Putu, sambil tangan yang masih hormat kepada bendera, mulut mereka pun ikut menyanyikan lirik demi lirik lagu Indonesia Pusaka.
Setelah selesai melakukan ritual, mereka ke pinggir puncak Gn.Salak dan mulai menatapi pemandangan dari atas puncak. “Gokil men, merinding gue.” Kata Bimo yang masih terbakar nasionalismenya. “Elo merinding banget pasti karena elo tinggal di Indonesia bim” Sahut Catherine. Tak mau kalah dengan Catherine, Putu pun menambahkan “Indonesia, Negeri dengan sejuta pesona ini dianugerahkan juga oleh Tuhan sejuta suku, ras, agama, dan adat istiadat. Dan yang buat elo merinding adalah perasaan terharu loh dimana elo punya jiwa nasionalisme yang tinggi sedangkan banyak orang di luar sana yang terus membangkitkan api amarah”.
“Kita  sebagai pemuda dan pemudi Indonesia harus punya tekad untuk memperbaiki mental bangsa kita bro. Persahabatan kita harus jadi bukti bahwa tidak ada yang mustahil dalam membangun toleransi umat beragama. Kalo kita semua udah selesai dengan urusan studi atau pekerjaan masing-masing jangan lupa untuk berbakti dan mengabdi bagi bangsa dan negara kita...... Indonesia” Setelah Liem berkata, mereka kemudian bersama mengepalkan tangan dan menyatukannya kemudian melemparkan kepalan tangan sambil berteriak “Merdekaaaaaaa”
Perbedaan bukanlah hal yang ditakuti...
Perbedaan bukanlah hal yang dikutuki...
Perbedaan bukanlah hal yang dicemari...
Perbedaan bukanlah hal yang disangsikan...
Perbedaan adalah Anugerah
Anugerah adalah Kebahagiaan
Kebahagiaan adalah Kedamaian
Kedamaian adalah Indonesia...