Tuhan Kirim Dokter buat Mama
Namaku Edo Lamanepa, putra asli kelahiran Kota Soe. Tahukah teman-teman dimana Kota Soe? Kalo tahu, sungguh banggalah hati ini menjadi warga Kota Soe. Betapa tidak Kota Soe hanyalah sebuah daerah terpencil di ketinggian Provinsi yang juga terpinggirkan, NTT. Yap, Kota Soe berada di Provinsi Nusa Tenggara Timur dan terletak di ketinggian 1000 mdpl, jauh dari keramaian hingar bingar perkotaan seperti di Kota Kupang, Kota Soe jauh lebih tenteram ditambah dengan keadaan cuaca dinginnya yang membuat badan membeku.
Kota Soe merupakan Ibu Kota Kabupaten Timor Tengah Selatan, meski Ibu Kota Kabupaten, Kota Soe tidak seberkembang Kabupaten tetangganya Kupang. Antara kedua kabupaten ini dibatasi oleh Jembatan yang dinamai Noelmina. Posisi Soe yang berada di bukit meletakan situasi alam wilayah ini kontras dengan Kota-kota lain di daratan Pulau Timor. Pulau Timor yang identik dengan temperatur udara yang panas “terpatahkan” jika anda telah berada di Kota ini.
Ada dua hutan kota yang sangat lebat, menyediakan oksigen yang berlimpah, sekaligus air bersih yang berlimpah bagi warga kota Soe, yakni hutan Air Besi dekat kampung Sabu dan hutan Oenasi di kelurahan Taubneno. Begitulah sedikitnya dari sekian yang tidak terlalu banyak juga tentang Kota ku, SOE.
Pagi itu matahari tidak terlalu bersinar terik dan hembusan angin dingin cukup membuat badan menggigil. Aku melihat ibu sedang merenda kain tenun khas SOE di depan rumah.
“Selamat pagi mah, gimana keadaan mama?”
“Selamat pagi Edo, sudah bangun kamu. Sarapan dulu sana. Mama baik-baik saja, hanya terkadang adikmu ini sedikit nakal jadi buat sakit perut mama”
“Nanti kalo sudah lahiran, ku marahi adek ma karena sudah nakal waktu di perut mama”
“kamu gak boleh begitu Edo. Kamu pun waktu dalam perut mama juga begitu toh”
“hehehe, yasudalah ma, aku sarapan dulu ya ma. Mama sudah sarapan?”
“yasudah. Mama sudah sarapan kok”
Oh iya, Mamaku sedang mengandung, dan mungkin dalam waktu dekat ini akan melahirkan.
Ku lihat makanan yang terdapat di rumah, hanya sedikit nasi serta lauk yang sangat-sangat sedikit. Maklumlah ayah ku hanyalah seorang petani dan ibu hanya bisa merenda kain tenun khas SOE. Pendapatan yang tidak banyak di keluarga kami membuat kami hidup seadanya.
Aku curiga kalo mama ku belum sarapan. Tapi selalu begitu jawabnya kalo aku tanya sudah sarapan atau belum. Aku curiga kalo mama ku hanya menyiapkan sarapan untuk ku.
“Ma, aku susul papa ke ladang ya”
“Hati-hati kau nak ya, jangan terlalu capek”
“Oke ma”
Aku kemudian berlari gembira ala-ala anak polos yang semangat membantu ayahnya bertani.
“pah, bagian mana yang belum diberi pestisida?”
“sebelah kiri sana Edo, ambillah penyemprotnya itu. Jangan terlalu banyak kamu semprotkan yah.”
“Oke pa”
Beginilah aktivitas ku setiap hari, membantu papah bertani. Aku putus sekolah karena mama dan papah ku tidak mampu membiayai sekolah ku. Biarlah aku membantu orang tuaku agar kelak adikku dapat bersekolah dan lebih baik dari ku.
Sembari memandang persawahan nan hijau...
“Pah, berapa lama lagi mama melahirkan?”
“Mungkin 1 bulan lagi Edo.”
“Kalo mama lahiran nanti kita bawa ke mana pah? Ke Rumah Sakit di Kota kah pah?”
“Tidak mungkin Edo, kita tidak ada biaya ke Rumah Sakit, biarlah ke Puskesmas dekat sini aja kita bawa”
“Tapi jarang ada dokter di Puskesmas pah”
“Yah, siapapun yang bisa di puskesmas lah. Semoga saja nanti pas lagi ada dokter Edo.”
“Semoga ya pah”
Namanya saja yang Kota. Tapi sebenernya SOE adalah sebuah pedalaman yang jauh dari hiruk pikuk keramaian kota. Keterbatasan sarana kesehatan di sini membuat wajar kota Soe menjadi daerah dengan tingkat kematian Ibu dan Anak yang tinggi.
Menjelang kelahiran adikku, aku setiap hari pergi ke puskesmas, melihat apakah ada dokter atau tidak. Ketika suatu hari aku pergi, aku melihat suasana puskesmas sedang ramai.
“Ada apa ini Glen?” tanya ku kepada teman ku.
“Ada dokter yang baru tiba di puskesmas ini. Kau tahu berapa jumlah dokternya?” Jawab Glen dengan penuh gembira.
“tidak, berapa glen?”
“EMPAT!!!!”
“Waaaawwwww.....” Aku tersenyum bahagia dan masuk ke dalam puskesmas.
Ku salami mereka satu persatu. Mereka masih muda. Entah siapa yang mengirim mereka. Mungkin mereka tersesat ke Soe.
“Kakak semua dari mana? Mengapa bisa ke Kota kami?” aku bertanya kepada salah satu dari mereka
“Kami dari Sumatera Utara, kami dokter yang sedang mengikuti program pemerintah. Jadi kami disini atas perintah Pemerintah Pusat. Nama adik siapa?”
“Aku Edo Lamanepa kak, nama kakak siapa?”
“Nama kakak Herman, yang pakai baju merah namanya kak Ria, yang pakai baju putih namanya kak Doni , dan yang terakhir yang pakai baju hijau namanya kak Roby.” jawab kak Herman sambil menunjuk teman-temannya.
“kak, ayok main ke rumah aku. Mama ku sedang mengandung dan belum pernah di periksa kesehatannya sama dokter”
“tunggu ya adik, kaka beres-beres dulu”
“sekarang saja kak, ayok kak, ayok.” Aku menarik tangan kak Herman dan memaksanya pergi ke rumah ku.
Kami tiba di rumah...
“Mah, pah, ada dokter....”
Mama dan papa kemudian keluar menyambut kami.
“Hai nak dokter, silahkan masuk. Tidak usah sungkan. Rumah kami memang tidak terlalu nyaman untuk ditinggali.”
“oh iya pak, terimakasih. Gapapa pak.”
“Silahkan duduk dulu ya nak, biar bapak ambilkan teh.” Papah kemudian pergi ke dapur mengambil air putih.
“Jadi sampe berapa lama kamu disini nak dokter?” tanya ibu ku.
“sampe 1 tahun ke depan buk.”
“Berarti kelahiran saya bisa ditangani sama dokter kan?”
“Iya bu. Ibu tenang saja. Sudah berapa usia kehamilannya buk?”
“mungkin sekitar 8 bulan nak.”
“berarti sebentar lagi ibu akan melahirkan. Ibu jaga baik-baik kondisi ibu ya, jangan terlalu lelah. Banyak berdoa dan berserah sama Tuhan ya.”
“iya dokter, tapi kami jarang sekali berdoa. Gereja jauh dari tempat kami, pendeta pun jarang datang ke daerah ini.”
“Berdoa tidak harus di gereja ibu. Ibu hanya cukup menutup mata dan melipat tangan, rasakan bahwa Tuhan ada di dekat ibu dan katakan apa yang menjadi harapan ibu.”
“Iya, kami pernah berdoa dokter tapi harapan kami tidak terkabul” kata papah sembari meletakkan gelas.
“Bapak, Ibu, dan Edo, harapan kita tidak selalu terkabul seketika itu juga saat kita berdoa. Ada waktunya, kita harus sabar menanti jawaban Tuhan. Tapi terus taat mendoakannya.”
“Kak, aku tidak tahu apa itu doa. Apa doa itu kak?”
“Doa adalah sesuatu yang kita pakai untuk menguhubungkan kita dengan Tuhan Yesus adik. Yesus yang telah menyediakan tempat bagi kita di Surga.”
“Surga?”
“Iya Surga. Tempat akhir bagi setiap manusia yang Percaya bahwa Yesus adalah Allah yang menyelamatkan hidupnya.”
“ohh. Aku bingung jadinya kakk”
“yasudalah Edo, nanti saja diteruskan pertanyaannya yah.”
Perkenalan pertama keluarga ku dengan kak Herman sangat berkesan. Kak Herman sangat ramah dan baik hati.
Setiap hari setelah membantu ayah di ladang aku pergi ke puskesmas untuk melihat kak Herman dan teman-temannya mengobati pasien. Terkadang ketika tidak ada pasien aku mengajak kak Herman berkeliling.
“Kak, jadi dokter itu susah ya kak?”
“Tidak ada yang sulit untuk menjadi apapun adik. Asal kita mau belajar dan bekerja keras mencapainya. Tapi jangan lupa juga berdoa.”
“Waktu aku sekolah aku rajin belajar kok kak, Cuma sekarang sudah tidak sekolah lagi”
“Kalo begitu apa yang Edo impikan suatu saat nanti?”
“Menyekolahkan adik ku sampai jadi dokter seperti kakak.”
“Wah, itu baik sekali. Kalo begitu Edo harus kerja keras dan rajin berdoa biar Tuhan kasih berkat sama Edo hingga bisa menyekolahkan adik Edo menjadi dokter.”
“Iya kak. Kaka kenapa jadi dokter?”
“Kakak punya mimpi suatu saat nanti bisa mengobati banyak orang yang tidak memiliki banyak biaya berobat.”
“Seperti di tempat tinggal ku ini kak?”
“Iya begitulah salah satunya Edo.”
“kakak baik sekali.”
“Seperti itulah kita harusnya Edo, menjadi berkat untuk banyak orang apapun pekerjaan kita.”
“Kalo Edo bertani, juga sudah menjadi berkat bagi banyak orang. Edo memberikan beras untuk banyak orang.”
“Iya kak? Berarti aku harus semangat terus bertaninya yah?”
“Betul sekali Edo.”
Aku jadi sangat dekat dengan kak Herman. Aku senang sekali bisa berkenalan dengan kak Herman.
Suatu hari tiba waktunya mamah melahirkan.
Aku berlari ke puskesmas....
“Kak Hermaaannn, kak herman, kak herman” Begitu terus aku berteriak sambil berlari ke puskesmas.
“Kak hermaan, mamah sudah mau lahiran.....”
Kak herman segera bergegas dan kemudian berlari bersama ku ke rumah.......
Keadaan mamah ku sudah tidak kuat lagi, tidak bisa dibawa ke puskesmas. Kak Herman terlihat kebingungan dan was-was. Peralatan semuanya ada di puskesmas. Kak Herman berpikir mamah ku masih bisa dibawa ke Puskesmas.
Dengan segala keterbatasan yang ada, Kak Herman melakukan proses kelahiran adikku di rumah ku.
Keadaan menjadi sangat menakutkan, lalu aku pergi dan berlari lagi ke puskesmas untuk memangil teman kak Herman.
Aku berlari lagi bersama teman Kak Herman ke rumah.
Sekarang sudah ada peralatan yang mencukupi. Aku tidak tahu bagaimana mamah melahirkan. Yang ku dengar terkadang ribut namun juga terkadang sunyi.
Aku dan papah menunggu di depan rumah.
Hingga akhirnya adikku lahir dengan selamat. Tapi.....
Tapi mamah ku!!!!! Tidaaaaaaaaakkkkkkkk, mamaaaaaaaaaaaaahhhhhhh.......
“Kak Herman Jahaaaaattttt!!!!!!! Kak Hermaaan Jahaaaatttt!!!!!”
Keadaan menjadi begitu menyakitkan saat kak Herman dan temannya tidak bisa menyelamatkan mamah ku. Hanya adikku yang dilahirkan selamat.
Aku sedih, aku teringat dengan kalimat ku akan memarahi adikku karena dia sudah nakal ketika di perut mama. Kini aku kembali semakin marah, karena kelahirannya telah membuat mama pergi. Tapi aku juga teringat akan pesan mama bahwa aku tidak boleh memarahi adikku, karena aku pun demikian.
Aku kecewa dengan kak Herman, aku pikir kak Herman baik. Waktu pertama kali aku dengar ada dokter yang tiba di puskesmas aku pikir mama akan baik-baik saja. Aku pikir, yah aku pikir. Semuanya aku pikir. Lalu aku lupa pesan kak Herman yang berkata bahwa aku juga harus berdoa. Mungkin Tuhan sudah tepat, membuat mamah pergi dan aku masih hidup. Mungkin karena mamah sudah dekat dengan Tuhan dan aku belum.
Aku marah dengan adikku yang baru dilahirkan. Tapi aku teringat janji ku dengan kak Herman akan menyekolahkan adikku sampai ia menjadi dokter. Aku teringat akan terus bekerja keras untuk menjadi berkat bagi banyak orang sebagai petani.
Yah, begitulah. Begitulah hingga waktu terus berjalan. Aku tetap dekat dan bersahabat dengan Kak Herman. Dia mengajari ku banyak hal selama tinggal di kota ku. Dia membawa ku lebih dekat dengan Tuhan. Dia membimbing ku untuk terus melakukan yang sesuai dengan Firman Tuhan.
Sumber Gambar : http://www.suryantt.com/suryantt-berita--anak-pns-dapat-bantuan-siswa-miskin.html
Tuhan mengirim kak Herman untuk satu tujuan. Aku pun harus yakin bahwa Tuhan juga punya satu tujuan bagiku. Terimakasih Kak Herman.
