Kamis, 01 Desember 2016

SEBARKAN KEBAIKAN

Aku berangkat kerja seperti biasa setiap harinya begitu juga hari ini, Jumat tanggal 2 desember 2016. Keluar dari rumah dan menutup pagar, tak ada terlintas sedikitpun di pikiranku bahwa ada kejadian luar biasa pada hari ini, aku masih tetap semangat untuk memulai perjalanan ku ke tempat dimana aku bekerja. Aku pun mengendarai sepeda motor yang selalu setia menemaniku sampai ke tempat penitipan motor di stasiun. 
Sumber : http://bogor.net/commuter-line-tambah-jadwal-perjalanan-perlintasan-bogor/


Sesaat sebelum aku sampai di tempat penitipan motor, aku melihat dari jauh sudah banyak rombongan berbaju putih memarkirkan motornya di tempat penitipan motor. Seketika itu juga aku teringat bahwa hari ini adalah hari dimana terjadinya kejadian luar biasa di Negeri ini. Tak banyak yang bisa aku ungkapkan tentang apa yang aku pikirkan. Tapi yang pasti aku langsung memulai perenungan ku tentang apa yang terjadi saat-saat ini. Mengapa ada begitu banyak gejolak yang terjadi di Negeri ini, apa karena Negeri ini sedang dicobai disaat pertumbuhan dan perkembangannya yang pesat di dalam Negeri?
Langkah demi langkah ku jalani, berada di tengah-tengah rombongan yang akan beribadah dan bekerja, membuat aku bingung mengapa kita sangat berbeda akhir-akhir ini? Ada ribuan orang yang memilih untuk bergabung di Pusat Kota dan ada juga ribuan orang yang tetap memilih menjalani aktifitasnya sehari-hari. Tertunduk dan tetap merenung hingga aku melihat panjang antrian untuk membeli tiket commuter line.
Terlintas penyesalan kenapa aku tidak mengisi saldo kartu multi trip kemarin hari namun aku tetap untuk mengantri mengisi top up kartu harian ku di Mesin kartu THB commuter line. Tiba saatnya aku sudah dibelakang satu orang lagi untuk dapat berhadapan langsung dengan mesin itu. Di mesin sebelah, aku melihat ada seorang perempuan bertutup kepala terlihat kebingungan. Aku melihatnya dan menyadari ternyata dia menggunakan uang 50.000 rupiah ke mesin kartu THB tersebut. Uang 50.000 terlalu besar di mesin tersebut dan harus dipecahkan terlebih dahulu ke nominal yang lebih kecil untuk dapat bertransaksi di mesin kartu THB.
Perempuan itu berusaha menanyakan sekeliling apakah ada yang bisa menukar uangnya atau tidak. Dia bertanya dan tak ada yang memiliki uang pecahan 50.000. Dia kebingungan karena antrian di belakang sudah terlalu panjang jika dia harus menukar uangnya terlebih dahulu dan mengulang antri dari belakang. Salah satu pria di belakang antrian perempuan itu berkata “Tukerin dulu mbak, antri lagi dari belakang”. Dan seketika itu pun aku memikirkan bagaimana aku bila berada di posisi perempuan bertutup kepala itu.
Perempuan itu mungkin lupa untuk memecahkan terlebih dahulu uang 50.000 nya karena terburu-buru kerja. Akhirnya aku katakan “Mbak, pakai ini saja” aku lalu memberikan uang 5.000. Dia berkata lagi “Tapi ini 13.000 mas” Aku menimpali “Oh yaudah” aku memberi lagi 10.000 kepada perempuan itu. Perempuan itu selesai bertransaksi dan sepertinya masih menunggu aku selesai bertransaksi. Setelah aku selesai bertransaksi dia menghampiri ku dan berkata “Mas, saya mau ganti uangnya” aku katakan “Oh, yaudah mbak” tapi sepertinya perempuan itu bingung mau menukar kemana karena kondisi yang ramai saat itu di Stasiun Bekasi.
Aku kemudian berkata lagi karena juga ingin segera naik kereta “Yaudah mbak gak usah” perempuan itu menjawab “Tapi saya gak mau mas” Untuk menghindari perdebatan antara mengganti atau tidak, aku katakan kepada perempuan bertutup kepala itu “Kalo gitu, sebarkan kebaikan saja mbak” perempuan itu menjawab “makasih ya mas” dan aku pun berlalu. Mencari gerbong yang tidak banyak orang, menjalani kembali perjalanan hingga sampai ke Blok M dengan tetap merenungi apa yang aku lihat sepanjang perjalanan ku. Hari ini aku belajar dari apa yang aku alami sendiri. Bahwa sebenarnya mudah melakukan kebaikan dan menebarkan semangatnya. Salam.