Aku berangkat kerja seperti
biasa setiap harinya begitu juga hari ini, Jumat tanggal 2 desember 2016.
Keluar dari rumah dan menutup pagar, tak ada terlintas sedikitpun di pikiranku
bahwa ada kejadian luar biasa pada hari ini, aku masih tetap semangat untuk
memulai perjalanan ku ke tempat dimana aku bekerja. Aku pun mengendarai sepeda
motor yang selalu setia menemaniku sampai ke tempat penitipan motor di stasiun.
Sumber : http://bogor.net/commuter-line-tambah-jadwal-perjalanan-perlintasan-bogor/
Sesaat sebelum aku sampai
di tempat penitipan motor, aku melihat dari jauh sudah banyak rombongan berbaju
putih memarkirkan motornya di tempat penitipan motor. Seketika itu juga aku
teringat bahwa hari ini adalah hari dimana terjadinya kejadian luar biasa di
Negeri ini. Tak banyak yang bisa aku ungkapkan tentang apa yang aku pikirkan.
Tapi yang pasti aku langsung memulai perenungan ku tentang apa yang terjadi
saat-saat ini. Mengapa ada begitu banyak gejolak yang terjadi di Negeri ini,
apa karena Negeri ini sedang dicobai disaat pertumbuhan dan perkembangannya
yang pesat di dalam Negeri?
Langkah demi langkah ku jalani,
berada di tengah-tengah rombongan yang akan beribadah dan bekerja, membuat aku
bingung mengapa kita sangat berbeda akhir-akhir ini? Ada ribuan orang yang
memilih untuk bergabung di Pusat Kota dan ada juga ribuan orang yang tetap
memilih menjalani aktifitasnya sehari-hari. Tertunduk dan tetap merenung hingga
aku melihat panjang antrian untuk membeli tiket commuter line.
Terlintas penyesalan kenapa
aku tidak mengisi saldo kartu multi trip kemarin hari namun aku tetap untuk
mengantri mengisi top up kartu harian ku di Mesin kartu THB commuter line. Tiba
saatnya aku sudah dibelakang satu orang lagi untuk dapat berhadapan langsung
dengan mesin itu. Di mesin sebelah, aku melihat ada seorang perempuan bertutup
kepala terlihat kebingungan. Aku melihatnya dan menyadari ternyata dia
menggunakan uang 50.000 rupiah ke mesin kartu THB tersebut. Uang 50.000 terlalu
besar di mesin tersebut dan harus dipecahkan terlebih dahulu ke nominal yang
lebih kecil untuk dapat bertransaksi di mesin kartu THB.
Perempuan itu berusaha
menanyakan sekeliling apakah ada yang bisa menukar uangnya atau tidak. Dia bertanya
dan tak ada yang memiliki uang pecahan 50.000. Dia kebingungan karena antrian
di belakang sudah terlalu panjang jika dia harus menukar uangnya terlebih
dahulu dan mengulang antri dari belakang. Salah satu pria di belakang antrian
perempuan itu berkata “Tukerin dulu mbak, antri lagi dari belakang”. Dan
seketika itu pun aku memikirkan bagaimana aku bila berada di posisi perempuan
bertutup kepala itu.
Perempuan itu mungkin lupa
untuk memecahkan terlebih dahulu uang 50.000 nya karena terburu-buru kerja.
Akhirnya aku katakan “Mbak, pakai ini saja” aku lalu memberikan uang 5.000. Dia
berkata lagi “Tapi ini 13.000 mas” Aku menimpali “Oh yaudah” aku memberi lagi
10.000 kepada perempuan itu. Perempuan itu selesai bertransaksi dan sepertinya
masih menunggu aku selesai bertransaksi. Setelah aku selesai bertransaksi dia
menghampiri ku dan berkata “Mas, saya mau ganti uangnya” aku katakan “Oh,
yaudah mbak” tapi sepertinya perempuan itu bingung mau menukar kemana karena
kondisi yang ramai saat itu di Stasiun Bekasi.
Aku kemudian berkata lagi karena
juga ingin segera naik kereta “Yaudah mbak gak usah” perempuan itu menjawab “Tapi
saya gak mau mas” Untuk menghindari perdebatan antara mengganti atau tidak, aku
katakan kepada perempuan bertutup kepala itu “Kalo gitu, sebarkan kebaikan saja
mbak” perempuan itu menjawab “makasih ya mas” dan aku pun berlalu. Mencari
gerbong yang tidak banyak orang, menjalani kembali perjalanan hingga sampai ke
Blok M dengan tetap merenungi apa yang aku lihat sepanjang perjalanan ku. Hari
ini aku belajar dari apa yang aku alami sendiri. Bahwa sebenarnya mudah
melakukan kebaikan dan menebarkan semangatnya. Salam.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar