Rabu, 01 April 2015

Cerita Pendek "SAHABAT MERDEKA"



SAHABAT MERDEKA


“Kalian tahu gak, ada 1 persahabatan yang sulit ditemukan di dunia ini?” Tanya Bimo kepada sahabat-sahabatnya yang seketika itu juga memecahkan keheningan malam tahun baru di rumah Doni.
            Doni, Liem, Putu, Bimo, dan Catherine adalah 5 remaja yang bersahabat sejak mereka SMP di salah satu Sekolah swasta yang ada di Kota Jakarta. Sebenarnya mereka sejak SD telah lama saling mengenal, sebab mulai SD sampai saat ini kelas 3 SMA mereka berada pada satu sekolah yang menyediakan pendidikan dari SD sampai SMA. Saat SMP barulah mereka menjalin dan membangun persahabatan anak remaja yang selalu diwarnai pertengkaran namun juga menghadirkan kebersamaan yang sangat berarti.
“Tahu gak yaa?” celetuk Doni yang disambut tawa oleh teman-temannya ‘Hahahaha”. Bimo menahan senyumnya dan melanjutkan pertanyaannya “Ah, rese lo. Serius nih, kalian tahu gak?”. Catherine akhirnya merespon pertanyaan Bimo “ia deh, emang apa ?”. Bimo lalu mencolek dagu Catherine dan berkata “gitu donk, hehe”. Reaksi genit Bimo langsung dipatahkan oleh Putu “eh, tadi lo bilang serius, kenapa jadi genit gitu? Cepetan deh lo cerita apa yang lo tahu tentang pertanyaan lo?”. Bimo pun menjelaskan “Nah, begini. Persahabatan yang sulit ditemukan di dunia ini adalah persahabat yang kaya kita ini. Persahabatan lintas SARA meeennnn...”. Sahabat-sahabat Bimo yang mendengarkan serentak berkata “oooohhhh...” yang dilanjutkan dengan ketawa kecil.
            Lima remaja ini memiliki keberagaman dalam membangun persahabatan mereka. Doni adalah anak dari seorang Haji dan Saudagar asal Makassar, Liem adalah Putra keturunan Tiongkok-Budha namun tetap cinta Indonesia, Putu adalah anak yang lahir di Bali namun pindah dan menetap di Jakarta mengikuti kedua orangtuanya, Bimo adalah anak seorang Pemilik Toko Rohani, dan Catherine adalah Putri Khatolik Jawa nan cantik rupawan. Entah bagaimana mereka dapat bersama menjalin persahabatan yang sampai saat ini masih bertahan bahkan telah sampai pada usia lima tahun terhitung sejak kelas 1 SMP.
            Bimo melanjutkan percakapan diantara mereka “Begini, kalian masih inget gak saat kita bikin ketupat lebaran bareng di rumah Doni tapi yang ada ketupatnya malah mentah dan gak mateng”. Putu melanjutkan perkataan Doni “Ia,ia, w inget dan saat itu kita buang ketupat yang gak mateng itu supaya gak ketahuan sama orang tua Doni. Ia kan?”. Liem pun mengikuti alur percakapan sambil menujuk kepada Putu “hahaha, iya itu lucu banget. Kalian inget juga gak waktu 2 tahun lalu saat dia berusaha memasang Bintang di atas pohon Natal rumah Bimo tapi dia malah jatuh”. Bimo menyahut cerita Liem “Hahahaha, sumpah itu kasihan banget. Untung aja Pohon Natal w gak ikutan jatuh, kalo enggak kita harus susun ulang. Hahaha”. Putu yang merasa tersinggung kemudian membela diri “Lagian bangkunya kurang memadai untuk dinaiki sih”. Namun yang lainnya justru mengejek dan berkata dengan kompak “Itu sih derita lo!!!! Hahahaa”
            Malam tahun baru larut dalam suka, tawa, dan canda diantara 5 sahabat ini. Cerita demi cerita yang kocak dan mengelitik mengenang persahabatan mereka selama ini terus mengalir dari satu orang ke orang lainnya. Maklum saja, baru dimalam tahun baru ini mereka diperbolehkan oleh kedua orangtua mereka untuk dapat menghabiskan satu malam pergantian tahun itupun karena disalah satu rumah mereka. Sebelum mereka menutup mata sampai pagi tiba, Bimo menutup percakapan mereka “Sekarang kalian tahu kan, kenapa persahabatan kita ini w bilang sebagai persahabatan yang sulit ditemukan di Dunia” Doni kemudian menambahkan “Iya, persahabatan kita seperti sebuah cerita Novel yang sepertinya tidak akan pernah terwujud sampai w bisa menghitung jumlah rambut yang ada di kepala w” sontak mereka pun tertawa “Hahahahaha”. Sambil menatap ke langit, mereka pun tertidur. Sebelum Bimo menutup matanya, dia sempat berkata kecil “Biarpun ini seperti khayalan, semoga kita dapat membuka mata dunia”.
            Kelas 3 SMA menjadi sebuah tingkatan pendidikan yang sangat menakutkan bagi sebagian Pelajar yang ada di Indonesia begitu juga dengan Doni, Putu, Liem, Bimo,  dan Catrherine. Yah, di kelas 3 SMA ini, pelajar akan melewati masa-masa menakutkan yang bernama Ujian Akhir Nasional atau yang biasa dikenal dengan UAN. Sedikit banyak UAN saat ini sudah cukup meringankan para pelajar. Namun tetap saja UAN menjadi momok bagi sebagian Pelajar yang tidak memiliki mental cukup baik untuk melewatinya.
Hanya kurang lebih 1 bulan lagi Doni, Putu, Bimo, Liem, dan Catherine akan menghadapi Ujian Akhir Nasional. Putu merupakan siswa yang lebih kreatif dibandingkan dengan ke 4 temannya namun tidak semua mata pelajaran yang diUAN kan dikuasai dengan baik oleh Putu. Hal inilah yang membuat Putu paling khawatir dibandingkan dengan ke4 temannya.
“Kurang dari 1 bulan lagi nih...” kata Catherine membuka percakapan diantara mereka seusai mengikuti pelajaran tambahan sebagai persiapan siswa untuk menghadapi UAN. “Gimana, kalian udah siap kan?” lanjutnya. “Kalo w sih udah, kalian tahu sendiri nilai Try Out w selalu bagus. Hehehe” kata Bimo menjawab pertanyaan Catherine. “Ah, sombong lo! W doain Kualaaaaa....” sahut Doni menanggapi jawaban Bimo yang langsung dipotong oleh Putu “usssttt, gak boleh doain temen kualat. Kita itu harus saling dukung men. Jujur aja w masih khawatir nih”. “Lo khawatir kenapa Put? Mata pelajaran apa yang kayanya lo kurang yakin?” Tanya Liem kepada Putu. “Ia, Biologi kayanya masih membuat w muter-muter di hapalan yang itu-itu aja. Kimia juga agak ragu w” Jawab Putu kepada Liem. “Yaudah gini aja, gimana kalo kita tambahin jam belajar kita di rumah. Kita belajar bareng supaya bisa berdiskusi, berdiskusi menambah keseruan dalam belajar dan menambahkan daya ingat kita loh” Liem kemudian memberikan solusi yang kemudian disetujui oleh teman-temannya.
Waktu terus berlalu dan tibalah saat Ujian Akhir Nasional dimulai. Ke 5 sahabat ini pergi secara bersama-sama menuju sekolah. Setibanya di sekolah mereka berkumpul dahulu sebelum memasuki ruangan ujian. “w gak tahu gimana perasaan kita masing-masing. Supaya kita bisa lebih rileks mengerjakan soal, alangkah lebih baiknya kita berdoa bersama terlebih dahulu. Kita doain supaya setiap dari kita dapat mengerjakan soal-soal UAN dengan lancar” Kata Doni memulai pembicaraan diantara mereka. “iya betul banget kita harus satukan doa kita supaya kita dan teman-teman kita yang lain di SMA ini bisa lulus 100%” Lanjut Bimo. “Oke, sekarang mari kita berdoa sesuai dengan Agama kita masing-masing. Berdoa dimulai” kata Doni. Mereka kemudian berdoa dengan Agama mereka masing-masing. “berdoa selesai” Doni pun mengakhirinya.
Keadaan menjadi sangat mengkhawatirkan saat Ujian Akhir Nasional mata pelajaran Biologi, saat itu Liem yang 1 ruangan dengan Putu melihat Putu begitu khawatir dalam membaca soal-soal Mata Pelajaran Biologi. Putu tidak bisa diam, kepalanya terus memperhatikan sekitar dan melihat waktu di jam tangannya. Mukanya berkeringat yang menunjukkan dia mendapatkan masalah dalam mengerjakan soal-soal Biologi. Putu akhirnya meminta izin kepada pengawas untuk ke Kamar Mandi. Mungkin Putu ingin menenangkan dirinya disana. Liem yang melihat temannya itu hanya berharap diskusi tambahan yang dilakukan kurang dari 2 minggu dapat membantu nilai Biologi Putu minimal di angka standard kelulusan.
Mereka telah melewati masa-masa menegangkan dalam Ujian Akhir Nasionaldan kemudian Ujian Akhir Sekolah. Pengumuman kelulusan pun tiba....
Mereka Lulus! Sekolah mereka lulus 100%. Mereka menyambut dengan  kegembiraan dan keceriaan. Namun ada hal lain yang membuat mereka tidak dapat berlama-lama larut dalam kegembiraan. Yah, Pendidikan lanjut. Sebuah keputusan berat yang harus mereka ambil untuk menentukan masa depan mereka. Doni direncanakan oleh ayahnya untuk mengambil Pendidikan di Mesir sedangkan Catherine ke Tanah Eropa, Bimo harus mengikuti jejak ayahnya dan juga memang cita-citanya untuk sekolah di Pelayaran, Putu sepertinya harus kembali ke Bali untuk menepuh studinya di salah satu Perguruan Tinggi Negeri disana, terakhir Liem tetap di Jakarta dan mengambil pendidikan Bisnis di Universitas Swasta.
            Situasi ini membuat mereka beberapa hari tidak bertemu. Memikirkan bagaimana kehidupan bersosialisasi yang akan mereka lanjutakan tanpa persahabatan yang telah mereka jalani selama ini. Persahabatan yang mereka bangun telah membuat pemikiran lintas perbedaan yang sangat kuat dalam pribadi mereka masing-masing. Sehingga membuat Doni dan Catherine bertanya-tanya dalam hati apakah mereka dapat menyesuaikan diri dengan baik di lingkungan yang sangat berbeda dengan Negara yang ia cintai ini. Keputusan akan sebuah masa depan yang mungkin bagi sebagian orang memang mudah tapi bagi mereka terpisahkan bertahun-tahun lamanya dengan sahabat adalah suatu keputusan yang sangat sulit. Tetapi memang cita-cita lah yang terutama sambil berharap suatu saat waktu membuat mereka kembali bersama.
            Putu mempunyai ide kreatif untuk membuat perpisahan diantara mereka menjadi lebih berkesan agar terus terkenang dalam memori mereka. Putu berinisiatif untuk mengajak mereka mendaki Gunung Salak yang terdapat di Kabupaten Bogor. Gunung salak tidak relatif tinggi hanya 2.221 m dpl sehingga layak untuk didaki oleh remaja seperti mereka. Meski tergolong sebagai gunung yang rendah, akan tetapi memiliki tingkat kesulitan cukup tinggi, baik karena karakteristik vegetasi maupun medannya. Sehingga untuk mendapatkan tingkat keamanan yang lebih tinggi maka Putu memutuskan untuk melalui jalur yang paling banyak dilalui, Curugnangka yakni sisi utara gunung yang akan sampai pada Puncak Salak II. Kira-kira begitulah informasi yang diperoleh Putu mengenai Gunung Salak dari internet.
            Putu kemudian memberitahu rencana ini kepada Doni, Bimo, Liem, dan Catherine. Pucuk dicinta ulam pun tiba, mereka semua setuju atas ide Putu. Rencana pendakian pun dipersiapkan dengan matang agar pada tanggal 17 Agustus mereka dapat bersama-sama mengibarkan Bendera Sang Saka Merah Putih di atas puncak Gunung Salak. Tidak lupa mereka meminta izin kepada kedua orang tua mereka. Ada yang mudah mendapatkan izin namun juga ada yang harus bersusah payah menjelaskan kepada kedua orang tua meraka.
            Waktu pendakian pun tiba, mereka sudah tiba di kaki Gunung Salak, Curugnangka tanggal 17 subuh kira-kira pukul 1 pagi. Mereka beristirahat di Pos Curugnangka menunggu langit agak terang sehingga perjalanan mereka dapat lebih aman. Waktu menunjukkan pukul 04.30 WIB mereka lalu memutuskan untuk berangkat ke atas Puncak Gunung Salak. Kebetulan pada saat itu ada rombongan pendaki lain yang mendaki bersamaan dengan mereka. Setidaknya ini membuat mereka lebih aman karena tak ada satupun dari mereka yang pernah mendaki Gunung Salak.
            Perjalanan dari kaki gunung Curugnangka sampai kepada pos 3 masih aman terkendali mereka lalui. Perjalanan yang serius namun sesekali mereka bergurau dan bercanda bahkan ada saja yang menakut-nakuti Catherine dalam perjalanan. Ketika ada medan yang sulit dilalui, mereka saling membantu bahkan tak jarang rombongan pendaki lain turut membantu perjalanan mereka berlima. Ketika rombongan pendaki lain beristirahat, mereka pun ikuit beristirahat. Dalam peristirahatan yang sejenak itu mereka berkenalan dengan rombongan lain dan mengobrol membangun sebuah komunikasi yang hangat diantara para pendaki dan pencinta alam. Saling berbagi bekal pendakian adalah suatu hal yang lumrah dikalangan pendaki. Selesai beristirahat perjalanan pun dilanjutkan. Meter demi meter pendakian mereka lalui, hingga sesaat setelah melewati Pos ke 5 dan hampir sampai di puncak Catherine terjatuh.
“Aaaaarrggghh” teriak Catherine yang salah langkah pada saat melewati track yang agak sulit. “tolong.tolong” Putu kemudian memanggil rombongan lain untuk turut membantu Catherine. Catherine lalu disandarkan ke batang pohon dan kakinya mendapatkan pertolongan pertama. Salah satu dari rombongan lain yang mengerti tentang P3K pada jalur pendakian memeriksa kaki Catherine. Untunglah kakiknya tidak begitu parah, hanya keseleo sedikit dan cukup diberi penahan serta perban untuk dapat membantunya menahan sakit hingga tiba di atas puncak. Perjalanan dilanjutkan dan Catherine dibantu oleh Bimo untuk sampai ke Puncak Salak II.
Mereka tiba di Puncak Salak II dan sesaat setelah beristirahat sejenak, mereka melakukan seremoni pengibaran bendera sederhana. Ketika tiang dan bendera telah terpasang dan terpancang, mereka kemudian menyanyikan lagu Kemerdekaan RI sambil melakukan horrmat kepada Bendera Merah Putih.
“eh,eh putar lagu Indonesia Pusaka donk. Biar lebih berasa terharunya” canda Bimo kepada teman-temannya. “ia,ia, bener banget, biar kaya di film-film. Hahaha” sahut Doni menyambung pernyataan Bimo. “Lagu Indonesia Pusaka menggetarkan jiwa banget meen, terbakar nasionalisme w kalo denger lagu itu” lanjut Liem menimpali kedua perkataan temannya. Lagu Indonesia Pusaka pun diputar melalui gadget Putu, sambil tangan yang masih hormat kepada bendera, mulut mereka pun ikut menyanyikan lirik demi lirik lagu Indonesia Pusaka.
Setelah selesai melakukan ritual, mereka ke pinggir puncak Gn.Salak dan mulai menatapi pemandangan dari atas puncak. “Gokil men, merinding gue.” Kata Bimo yang masih terbakar nasionalismenya. “Elo merinding banget pasti karena elo tinggal di Indonesia bim” Sahut Catherine. Tak mau kalah dengan Catherine, Putu pun menambahkan “Indonesia, Negeri dengan sejuta pesona ini dianugerahkan juga oleh Tuhan sejuta suku, ras, agama, dan adat istiadat. Dan yang buat elo merinding adalah perasaan terharu loh dimana elo punya jiwa nasionalisme yang tinggi sedangkan banyak orang di luar sana yang terus membangkitkan api amarah”.
“Kita  sebagai pemuda dan pemudi Indonesia harus punya tekad untuk memperbaiki mental bangsa kita bro. Persahabatan kita harus jadi bukti bahwa tidak ada yang mustahil dalam membangun toleransi umat beragama. Kalo kita semua udah selesai dengan urusan studi atau pekerjaan masing-masing jangan lupa untuk berbakti dan mengabdi bagi bangsa dan negara kita...... Indonesia” Setelah Liem berkata, mereka kemudian bersama mengepalkan tangan dan menyatukannya kemudian melemparkan kepalan tangan sambil berteriak “Merdekaaaaaaa”
Perbedaan bukanlah hal yang ditakuti...
Perbedaan bukanlah hal yang dikutuki...
Perbedaan bukanlah hal yang dicemari...
Perbedaan bukanlah hal yang disangsikan...
Perbedaan adalah Anugerah
Anugerah adalah Kebahagiaan
Kebahagiaan adalah Kedamaian
Kedamaian adalah Indonesia...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar